Berhentilah Merokok, Titik
TEMPO Interaktif, Jakarta - John Siswanto, penduduk Jalan Nias, Kelapa Gading, Jakarta Utara, menyesal bukan kepalang. Perokok berat mulai abg itu sedang menuai akibat dari kesenangannya: stroke sejak tujuh tahun lalu. Separuh tubuh lelaki 44 tahun itu lumpuh. "Selama bertahun-tahun, setiap hari saya menghabiskan satu pak rokok (10 bungkus). Bukan satu bungkus lagi," John menceritakannya Senin pekan lalu. Kalau pun ada sisa, paling hanya dua atau tiga batang, tak jarang sampai habis sama sekali.
Sejak stroke melumpuhkannya, John bertekad berhenti merokok. Dengan kemauan yang kuat dengan bimbingan rohani kebiasan buruk itu berhenti sama sekali. "Saya berjanji pada Tuhan bahwa saya tidak akan lagi merokok," ujarnya. Apa yang dilakukan John agar bisa menepati janjinya pada Tuhan? Setiap dorongan merokok itu datang, ia mengingat kedua anaknya yang masih belum mandiri.
Dokter yang membimbingnya juga bilang, "kalau you nggak sayang anak, merokok saja biar cepat mati." John menirukan saran "sadis" dokternya. Akan halnya keluarga John membantu dengan menjauhkan segala hal yang berhubungan dengan rokok. "Mereka membantu membuang semua pak dan bungkus rokok yang tersisa." "Ancaman" tak bisa membesarkan anak-anaknya mengalahkan kecanduan yang dipicu motif sok gaya di hadapan teman-temannya ketika SMP dulu dan bantuan keluarga memupus keinginan merokok John.
Cara menghentikan kecanduan merokok yang dilakukan John sejalan dengan hasil penelitian Rebecca Schane, peneliti kesehatan masyarakat dari Universitas California, Amerika Serikat. Schane dan timnya yang merekam kebiasan orang merokok menemukan fakta bahwa kebiasaan merokok berawal dari aktifitas sosial. Orang akan sulit menolak rokok jika lingkungannya merokok. "Merokok adalah gaya hidup. Mereka yang berpendidikan yang seharusnya tahu kesehatan juga bisa menjadi pecandu rokok," kata Rebecca seperti yang dilansir New Scientist.com pertengahan Juni lalu.
Jika tak punya kegigihan seperti John, terapi akupunktur bisa membantu. Liviyanti Sie, akupunkturis di Kelapa Gading. Liviyanti mengatakan, pecandu rokok usia 40-50 tahun bisa menghentikan kebiasaannya dengan 10-12 kali terapi. Liviyanti akan menusuk sejumlah titik telinga dan tangan. Titik-titik ini berhubungan dengan saraf mulut dan memberi efek tidak enak merokok. Prinsip ini sama dengan membuat pasien obesitas mengurangi makan dengan menusuk titik-titik lapar, hingga ia cepat kenyang. "Tapi ini tidak akan berhasil kalau yang bersangkutan nggak punya keinginan kuat berhenti merokok," kata Liviyanti.
Kemauan kuat adalah syarat mutlak untuk menghentikan kebiasaan merokok. Bahkan jika memilih cara medis sekali pun. Dokter spesialis paru-paru di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kemayoran Janto. G. Lingga mengatakan sekarang memang sudah ada obat yang memberikan efek detofikasi terhadap nikotin sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap nikotin.
Obat-obatan ini diklaim mampu melepaskan ketergantungan pada rokok. Hanya, kemampuan obat ada batasnya. "Efektifitasnya tidak mutlak kalau si pecandu tidak punya kemauan kuat untuk berhenti merokok," ujar peraih spesialis paru-paru dari Fakultas kedokteran Airlangga 1980 ini. Janto juga membenarkan cara John yang berhenti merokok secara drastis. Menurutnya, jika perokok melihat rokoknya tinggal sebatang, si perokok akan terstimulasi merokok lagi begitu melihat temannya merokok. Yang sebatang bisa bertambah lagi dan lagi. Jadi, "mengapa tidak berhenti secara drastis saja?"
IRVAN SJAFARI



