Saya masih di ‘Jawa’
Sudah delapan bulan saya tinggal di Kalimantan Selatan. Meskipun jauh dari pulau jawa, tetapi hidup di Kalimantan Selatan (tepatnya kabupaten Tanah Bumbu) serasa hidup di kampung halaman dulu. Ya, terasa seperti saat saya masih tinggal di Desa Kedungbanteng Kecamatan Sumbermanjing Wetan Kabupten Malang Provinsi Jawa Timur. Nuansa Jawa terasa kental sekali. Meskipun ada beberapa kampung yang didominasi orang suku Bugis Sulawesi dan suku Banjar, secara umum Kabupaten Tanah Bumbu ini didominasi orang suku Jawa. Apalagi kalau memasuki kantor pemerintahan, banyak nama-nama khas jawa yang menduduki posisi penting. Dan tahun ini saya menjadi bagian tersebut meskipun belum menduduki posisi penting.
Sebelum berangkat ke kabupaten ini saya sempat khawatir ada masalah dengan selera makan saya. Sempat terpikirkan apakah masakan urang banua (orang Kalimantan) bisa kompromi dengan perut saya. Ternyata setelah sampai disini, saya masih bisa menikmati nasi pecel, bakso arema, sayur lodeh, mie ayam, cap cay, dan masakan-masakan lain seperti halnya di Malang dulu. Tapi ada beberapa makanan khas Malang yang sampai saat ini belum saya temui di sini yaitu tahu telor, tahu campur, dan rujak.
Saya awalnya sempat terkejut ketika orang sini masih banyak yang tetap menggunakan bahasa jawa. Dan itu sangat saya syukuri karena kemampuan bahasa Jawa saya akan tetap terjaga. Maklum saat ini sudah banyak anak Jawa yang tidak bisa bahasa Jawa dengan baik dan benar. Sementara saya, dari kecil sudah dibiasakan menggunakan bahasa Jawa, baik yang ngoko (bahasa Jawa yang diucapkan kepada orang yang sebaya atau yang lebih muda) maupun krama inggil (bahasa Jawa yang diucapkan kepada orang yang lebih tua/dihormati). Meskipun tetap menjaga bahasa Jawa, tidak bisa dipungkiri saya harus tetap belajar bahasa Banjar. Karena jika tidak, siap-siap jadi orang asing di sini yang mudah dibohongi dan mudah dikerjai. Ssst…..siapa tahu dengan kemampuan bahasa Banjar, saya bisa mendapatkan gadis lokal sini yang terkenal cantik-cantik dan putih (hehehehehe…).
Dan yang semakin membuat saya merasa seperti di Jawa adalah kesenian Wayang Kulit. Sudah dua kali saya melihat ada pertunjukan kesenian wayang kulit di sini. Ini mengingatkan masa kecil saya. Dari kecil hingga Madrasah Tsanawiyah (SMP) kelas 3 saya selalu nonton wayang kulit di kantor desa yang berdekatan dengan rumah orangtua saya. Tiap setahun sekali selalu diadakan dalam rangka acara Bersih Desa (selamatan desa). Bukan nonton yang sebenarnya seh karena saya tidak paham dengan cerita dalangnya. Kebanyakan hanya kumpul-kumpul dengan teman sambil makan camilan karena jarang-jarang saya bisa keluar malam. Baru setelah lulus Madrasah Tsanawiyah kemudian melanjutkan ke SMKN 1 Singosari (tahun 1998) dan saya tinggal di pesantren, sejak saat itu saya tidak pernah lagi menonton wayang kulit.
Meskipun di sini sangat bernuansa jawa, tetapi tetap saja tidak bisa menutupi kerinduan saya terhadap keluarga, kampung halaman, teman-teman, segala kenangan yang semuanya ada di Malang dan bahkan mungkin juga sebuah cinta yang masih tertinggal di sana. Dan satu lagi yang tidak bisa digantikan di sini, saat masih aktif datang ke stadion Gajayana dan stadion Kanjuruhan mendukung Arema bersama puluhan ribu aremania yang lain.


