Home| Teknologi| Kesehatan| Catatanku| Tutorial| Cerpen| Biodata

April 8, 2008

Terimakasih Allah Kau Selamatkan Saya

Filed under: .:Catatanku:.
   Kemarin siang sekitar pukul 10.15 WITA saya keluar dari rumah. Setelah memakai jaket dan helm, motor yang baru saya beli sebulan yang lalu saya stater dan memasukkan perseneleng ke gigi 1 lalu saya tarik gas pelan-pelan. Sambil membaca,"Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniin..", melajulah motor dengan lambat meninggalkan pelataran rumah.Jadwal hari ini adalah saya akan ke kantor FIF bersama Budi yang juga bawa motor sendiri. Ya, motor yang saya kendarai saat ini adalah hasil saya beli dengan cara kredit. Sebenarnya saya tidak suka beli secara kredit, tapi hanya dengan cara ini saya bisa memiliki motor untuk saat ini. Mau meminta uang ke orangtua sudah tidak mungkin, karena saya sudah janji tidak mau merepotkan mereka lagi. Loh ko ceritanya malah ngelantur?….
 
   Sesampai di kantor FIF, ternyata tidak terlalu banyak customer sehingga saya bisa segera membayar angsuran. Sekitar 10 menit di dalam kantor, saya pun keluar sambil membuat rencana perjalanan berikutnya. Ke Gunung Tinggi, ya, sekalian mengecek SK pengangkatan di kantor BKD. Memang hampir semua kantor pemerintahan Kabupaten Tanah Bumbu terpusat di daerah Gunung Tinggi. Yang sekitar 21 Km jaraknya dari tempat saya tinggal.
 
   Memasuki daerah Gunung Tinggi, saya menambah kecepatan motor. Jalan yang beraspal bagus, tidak banyak tikungan, serta situasinya agak lengang membuat siapapun ingin memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sesampai di kantor BKD ternyata saya mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan ketika saya menanyakan kepada seorang pegawai perempuan tentang kejelasan kapan turunnya SK. "Ngga tau ya mas, karena sekarang berkasnya masih di BKN," jawab pegawai itu. Dengan sedikit kecewa saya meninggalkan ruangan itu dan selanjutnya pulang. Ternyata di luar sedang hujan teras. Beginilah situasi di Tanah Bumbu saat ini. Pagi hingga siang sinar matahari sangat terik eh ternyata pukul 1 siang hujan deras. Sambil menunggu hujan reda, kami duduk-duduk di dekat pintu sambil ‘menikmati’ cantiknya dua siswi yang sedang magang yang katanya dari sebuah SMK di Jakarta.
 
   Setelah lebih dari 1 jam menunggu, akhirnya hujan bisa reda juga. Tidak ingin hujan datang lagi, kami pun langsung pulang. Sedikit berbeda dengan saat berangkat, saya memacu motor lebih kencang. Sebenarnya tidak terlalu kencang sih, cuma rata-rata 65 Km/jam saja. Saya harus berkejaran dengan hujan yang terus membuntuti di belakang.
 
   Saya benar-benar terkejut ketika tiba-tiba di depan saya sebuah tikungan ke kanan dengan sudut sekitar 90 derajat. Semakin membuat saya kaget karena jalannya menurun dan dari bawah muncul sebuah mobil dengan posisi agak di tengah jalan. Demi menghindari tabrakan, saya arahkan motor turun dari aspal. Dan sialnya ternyata roda belakang terpeleset sehingga "BRUAAKK…..!!!" motor terguling dan saya pun meluncur di aspal. Belum berhenti di situ, saya kembali terkejut ketika saya masih terlentang di aspal ternyata motor Budi muncul dari belakang mengarah ke kepala. Dengan masih tersadar, saya pun secara spontan mengangkat kepala berniat menghindari roda motor Budi yang seakan akan melindas kepala saya. Allah Mahapelindung, dengan suara ban yang nyaring bergesekan dengan aspal akibat terlalu kencang mengerem, motor Budi mampu berhenti sekitar 30 cm dari kepala saya. Alhamdulillaah. Saya tak henti-henti mengucap syukur karena terhindar dari kecelakaan yang sangat parah.
 
Dengan sedikit menahan perih pada tangan dan kaki, sambil dibantu Budi, saya menegakkan motor lagi. Saya juga melihat ada salah seorang penumpang mobil yang saya hindari tadi turun ingin membantu tapi telanjur saya sudah berdiri. Kemudian posisi spion yang ternyata pecah ketika jatuh tadi saya betulkan. Dan tanpa pikir panjang, motor saya starter dan langsung pergi. Saya sengaja tidak memeriksa luka saya, yang penting saya bisa segera pergi dari tempat itu. Setelah beberapa kilometer berjalan, saya berhenti. Saya memeriksa tangan kanan dan kaki kanan. Ternyata ada beberapa luka di sana.
 
   Saya heran kenapa hati saya tidak berdegup kencang seperti layaknya ketika mengalami kecelakaan. Bahkan saya menolak saran Budi untuk minum air putih dulu saat baru terjatuh. Ah tau deh. Mungkin karena kebetulan atau apa, malamnya sebelum tidur sebenarnya saya sempat mendengarkan teman yang bercerita pengalamannya kecelakaannya, kemudian ketika tidur saya juga bermimpi melihat sebuah truk yang terguling ke jurang. Terlepas entah itu firasat atau apapun, yang penting saya bersyukur masih diberi kesempatan hidup untuk beberapa waktu lagi.