December 31, 2007

Pertama kali merasakan Idul Adha di Borneo

Filed under: .:Catatanku:.

Merayakan Idul Adha di luar kampung halaman atau di luar kota sudah biasa saya rasakan, tapi kali ini benar-benar beda karena saya merayakannya di Kotabaru KAL-SEL. Dan tentu saja ada perbedaan dengan di asal kota saya, Malang.

Beberapa hari sebelum Idul Adha bibi saya yang di Kotabaru sering menelpon merayu saya agar mau merayakan Idul Adha di kotanya. “Rabu sore langsung berangkat aja, nanti sampai sini sekitar 1 jam kalau naik Speedboat, nah besoknya shalat Ied di sini…..”,kata bibi saya waktu itu. “Wah saya gak bisa kalau hari Rabu, bulik! Saya ada tugas yang harus saya…….,” jawab saya mencoba memberi penjelasan. Memang hari Rabu saat itu kegiatan saya padat, mulai pagi hingga siang. Selain itu juga pada hari itu saya punya agenda menonton siaran langsung Indonesia Selection Vs Dortmund bersama teman-teman saya. Apalagi saya harus segera menyerahkan beberapa tugas tepat pada saat nanti masuk setelah libur cuti bersama tanggal 26 Desember 2007.

Kamis pagi (20/12/07) hampir saja saya tidak mengikuti shalat Ied karena tertidur. Memang setelah shalat shubuh saya ingin tidur lagi barang sebentar karena saat itu saya masih sangat mengantuk dan apalagi di luar masih hujan dan udara dingin sekali. Saya terbangun ketika tetangga sebelah memanggil-manggil nama saya sambil mengetuk pintu. “Ikut shalat Ied gak?,” tanyanya. Saya benar-benar terkejut karena di hape saya telah menunjukkan pukul 07:02 WITA, berarti saya tidur tidak hanya sebentar. Setelah mandi beberapa saat, saya langsung berangkat ke masjid sambil mengendarai motor bersama Pak Dhe (panggilan teman serumah dengan saya). Ternyata baru sekitar 10 menit duduk dan mengikuti takbir, shalat Ied dimulai.

Selesai shalat Ied, saya nonton siaran langsung khutbah Idul Adha di Masjid Istiqlal. Karena setelah khutbah tidak ada tayangan menarik lagi, saya pun pergi ke lab buka internet. Setelah beberapa menit ternyata juga membosankan. “Ah, mau ngapain lagi? Ngenet malas, ngerjain tugas gak nafsu, mau pulang juga jauh,” gerutu saya kepada seorang teman yang ikut ke lab. Dia pun hanya tertawa melihat kegelisahan saya.  Padahal saya tahu dia juga merasakan hal yang sama, karena dia juga sama-sama baru datang di kota Batulicin, dan dia pun juga lama tinggal dengan saya selama kuliah di Malang.

Daripada terus gelisah, tidak ada salahnya kalau ke Kotabaru saja. Biarlah tugas diselesaikan nanti setelah pulang. Lagipula liburnya masih panjang. Pikiran ‘malas’ saya mulai keluar.  Dan ternyata saya lebih sreg dengan pikiran tersebut. Dan ternyata untuk kali ini teman saya juga sreg dengan pikiran saya. Dan tanpa berpikir lama, kami pun mematikan komputer dan langsung ke rumah masing-masing untuk berkemas-kemas.

Beberapa saat kami telah siap dengan sebuah tas di punggung berisi pakaian. “Minimal 3 hari di sana,” saya memberi tahu teman saya mengenai lama tinggal di Kotabaru sambil berangkat menuju jalan raya. Kami pun mencegat taksi (istilah orang Kalimantan menyebut mobil angkutan penumpang). Sampai di pasar Simpang Empat, kami turun dan jalan kaki menuju pelabuhan. Untuk menyeberang ke Kotabaru dapat ditempuh dengan 3 alternatif, kalau naik kapal ferry dengan membayar Rp 17.000;/orang, speedboat membayar Rp. 50.000;/orang(jika loket masih buka, bisa membeli tiket  seharga Rp 35.000/orang), dan kapal klotok (kapal untuk nelayan yang suara mesinnya tok tok tok…) Rp…….(saya belum tanya :D ). Ketiga cara tersebut paling cepat adalah naik speedboat karena cuma butuh waktu sekitar 1 jam dan langsung menuju pusat kota (kebetulan pusat kotanya dekat pantai).  Beda dengan kapal ferry yang sekitar 1,5 jam dan pelabuhannya masih jauh dari pusat kota.

Setelah terkumpul 4 penumpang, speedboat pun mulai bergerak. Empat tahun yang lalu saat saya naik speedboat di sini bersamaan ada ombak sehingga selama perjalan kita serasa dibanting-banting. Speedboat yang ringan dan melaju dengan kencang akan jumping tiap melewati ombak. Semakin kencang melaju, kita akan semakin sering merasakan ‘terbang di udara’. Untuk orang yang suka mabuk perjalan, ibu menyusui/ibu hamil, orang masuk angin, dan pengidap lemah jantung sangat tidak disarankan naik speedboat di air yang bergelombang karena banyak masalah akan terjadi. Saya bersyukur kali ini tidak ada ombak yang berarti, sehingga kami pun bisa menyeberang dalam waktu 50 menit-an.

Setelah sampai dermaga Siring Laut-Kotabaru, kami jalan kaki di atas jembatan kayu yang menghubungkan dermaga dengan daratan sepanjang lebih dari 100 meter. Sampai di tepi jalan raya kami mencegat taksi yang akan melewati jalan dekat rumah bibi saya. Dengan membayar Rp 2000/orang kami telah sampai dekat rumah bibi yang jaraknya sekitar 1,5 km dari pusat kota.

Kedatangan saya membuat keluarga di Kotabaru surprise karena tidak menyangka saya akan jadi datang. Dan saya juga terkejut ternyata di rumahnya banyak kue dan banyak tamu yang datang. Ternyata di sini (Kalimantan) Idul Adha dirayakan seperti Idul Fitri bedanya hanya Idul Adha ada hewan kurbannya. Pantas saja ketika sebelum berangkat (saat masih di Batulicin) banyak orang yang menegur ketika saya cuma di dalam rumah saja.   

Saat makan siang tiba, hanya sedikit daging sapi yang terlihat di meja makan. “Paklik (paman)mu tadi berkurban sapi di masjid makanya dia ga mau ngambil daging kurban, itu (yang di meja makan) pun pemberian tetangga yang katanya dari mushalla sebelah,” kata bibi menjawab pertanyaan saya.  

Selama di Kotabaru kami benar-benar hidup makmur. Hampir tidak pernah merasakan perut lapar karena banyaknya makanan dan kue yang tersedia.

Saat malam Minggu (22/12/07) kebetulan di kampung bibi sedang pemadaman listrik mulai maghrib. Karena sudah direncakan sehari sebelumnya kami pun tetap berangkat ke Siring Laut. Dengan mengajak mas Yudi (kakak sepupu saya di Malang yang sekarang tinggal di sini mulai pasca idul fitri kemarin), kami pun berangkat dengan jalan kaki. Siring Laut adalah sebuahtempat seperti alun-alun kalau di pulau jawa. Jadi sebuah taman yang terletak di sekitar pusat pemerintahan. Mulai menjelang maghrib di sini selalu ramai. Banyak warung makanan yang tersedia. Kebanyakan penjualnya adalah orang jawa atau keturunan jawa.  Puncak keramaian terjadi tiap malam Minggu. Sambil menikmati makanan kita bisa menikmati indahnya lautan beserta kapal-kapalnya dan terkadang juga ada pertunjukan band-band lokal. Saat pukul 21:30 WITA,kami pun pulang dengan naik becak.

Hari Senin (24/12/07) kami kembali ke Batulicin. Sebenarnya bibi saya melarang saya pulang hari itu karena kebetulan hari itu memasak berbagai macam makanan. Tetapi karena saya telanjur sudah siap pulang dengan tas di punggung, saya pun tetap pamitan pulang hari itu. Dengan naik 2 motor, kami diantar paman dan kakak sepupu saya ke dermaga Siring laut. Setelah beli tiket di loket, kami pun kembali ke Batulicin dengan hati puas setelah beberapa hari menikmati liburan di Kotabaru. Tapi nanti sesampai di Batulicin masih  banyak tugas yang menunggu. SEMANGAT!!!

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://topha.blogsome.com/2007/12/31/pertama-kali-merasakan-idul-adha-di-borneo/trackback/

  1. artikelnya panjang amiiiiiiiir mas thopa sayaampe bingung n pegel bacanya

    Comment by mara — June 27, 2008 @ 10:14 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.