December 18, 2007

Ribut-ribut soal Asian Idols

Filed under: .:Catatanku:.

Seharian hujan terus. Tak biasanya Slick Stone City dingin seperti ini. Sebab hari biasanya mengharuskan saya mandi sehari tiga kali, pagi-siang-sore, karena tidak betah dengan badan yang basah karena keringat. Hari-hari di sini sangat panas bagi saya yang berasal dari Malang yang terkenal kota dingin.

Mendekati mahgrib tadi hujan sudah reda. Alhamdulillah….., kata hati saya. Blab!. Ah listrik padam lagi, lagi-lagi saya tidak bisa melanjutkan baca Alquran. Sungguh seringnya pemadaman listrik membuat saya terganggu. Sambil menunggu listrik nyala lagi, saya mencoba menelfon seseorang yang beberapa hari ini ngambek tidak mau mengangkat tiap saya menelfon. Maunya saya tidak menelfon lagi untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Ternyata saya tidak sanggup, kangen!!!emoticon. Ah beruntung dia mau mengangkat, lega sudah.

Ternyata listrik nyala lagi. Sekarang bingung apa yang bisa dikerjakan. Mau melanjutkan membuat program tapi laptop dipinjam teman tadi siang untuk pengajian. Ngenet! yah tepat. Langsung saja ke lab server dan menyalakan komputer. Karena tidak ada rencana dari awal, saya pun cuma melihat-lihat blog teman-teman. Dari beberapa blog yang saya lihat, terutama blognya cewek, banyak yang mengupas tentang Asian Idol. Dan isinya pun nyaris sama. "Kenapa harus Hady Mirza???." Ternyata tayangan IDOL-IDOLan telah menjadi sebuah kebutuhan hidup (baca: kaum hawa indonesia). Karena saking cintanya, tak rela sedikitpun melewatkan tayangan tersebut. sampai-sampai hafal lagu, gaya, mimik, aksi panggung masing-masing finalis. Dan sampai pada puncaknya saat final, semua pecinta telah menyiapkan calon juara (versi masing-masing pecinta). Nah pada final Asian Idol ini, katanya, ada yang tidak beres. Katanya (lagi) harusnya bukan Hady Mirza (yang katanya bukan terbaik) yang juara. Dari beberapa blog yang saya baca alasannya pun hampir sama. Jujur saja saya memang bukan Asian Idol lovers (dan tidak pernah menontonnya) makanya kurang tahu kemampuan masing-masing finalis. Saya tidak peduli siapa yang menang, hanya saja saya jadi heran kenapa tayangan semacam itu selalu menjadi tayangan favorit. Padahal tayangan semacam itu (khususnya TV Indonesia) kebanyakan (menurut saya) hanya menjual kesedihan. Semakin menderita perjalanan hidup sang finalis maka semakin besar pula peluang menjadi pemenang. Belum lagi jika kita hitung berapa juta rupiah jumlah uang yang mengalir untuk mengirim SMS dukungan. Seharusnya biaya SMS cuma Rp 350,00 tapi untuk tayangan ini dikenakan rata-rata Rp 2.000,00/SMS. Biaya SMS yang berlipat-lipat dari biaya SMS normal. Sungguh hanya menghambur-hamburkan uang. Saya setuju dengan pemerintah negeri jiran Malaysia yang memfatwakan haram terhadap SMS semacam tersebut di atas. Menurut mereka yang menyalahi syariat Islam terletak pada berlipatnya biaya untuk mendapatkan keuntungan. Jadi sama saja dengan berjudi. Selain itu adanya kecenderungan pemborosan. Ah sudahlah kok malah ceramah, hehehe…. ngelantur…….

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://topha.blogsome.com/2007/12/18/ribut-ribut-soal-asian-idols/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.