Saat Harus Pergi (begitu berat rasanya)
Jarum jam menunjukkan pukul 14:30 WIB dan kalender tanggal 14 Nopember 2007. Berarti setengah jam lagi saya harus berangkat. Arif (teman di Alcapone sekaligus teman kuliah) sudah pulang setengah jam yang lalu setelah sekitar 4 jam-an mengantar saya keliling kota Malang membeli buku-buku, Travel Bag, dan sandal. Sekarang tinggal kakak ke-dua saya, Mas Arafat, yang masih ikut sibuk membantu saya mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa. Ternyata setelah semua barang dimasukkan, tas menjadi sangat berat. Kebiasaan lama saya terus terulang, kemanapun tak lepas membawa koleksi buku. Nah karena buku itulah maka tas saya menjadi sangat berat.
Sambil menunggu datangnya mobil travel, kami bercakap-cakap. Mas Arafat ngotot ingin mengantarkan saya ke Surabaya tapi saya tolak. “Ga usah mas, toh kalau sampean ngantar nanti kalau saya sudah naik kapal sampean sama siapa? Kan tengah malam gak ada bis ke Malang, naik taksi juga mahal,” jawab saya. Dia memang tidak tega melihat adiknya sendirian bawa barang sangat berat terus sampai di Surabaya masih menunggu kapal sampai pukul 23:00 WIB. Hari ini memang hanya mas Arafat yang menemani saya di kost sebelum saya berangkat karena kebetulan tempat kerjanya dekat dengan tempat dimana saya kost. Ibu, Bapak, dan kakak pertama sudah saya pamiti dua hari yang lalu.
Ternyata mobil Travel datang terlambat, seharusnya pukul 15:00 WIB tapi pukul 15:35 WIB baru datang. Setelah jabat tangan dan mengucapkan salam, saya naik ke mobil. Dengan lambaian tangan dari mas Arafat, saya pun berangkat meninggalkan kost saya yang baru saya tempati satu setengah bulan. Saya berusaha untuk tetap bisa melihat ke arah kakak saya itu hingga tikungan jalan menghentikannya.
Di dalam mobil hanya tiga orang termasuk sopir. “Nanti masih menjemput dua orang lagi,” kata pak sopir ketika saya tanyakan berapa jumlah penumpang nantinya. Mobilpun menuju arah Plaosan menjemput seorang ibu yang akan pergi ke Sidoarjo. Setelah mengambil penumpang di Plaosan, satu lagi penumpang naik di sebuah PJTKI di dekat pertigaan Arjosari. Penumpang yang baru adalah seorang calon TKW yang akan ke tempat penampungan di Surabaya.
Sore ini masih hujan meskipun tidak sederas satu jam yang lalu. Saya masih terdiam. Pikiran saya mulai melayang-layang tak jelas arahnya. Mulai memikirkan kakak yang saya tinggalkan di kost, keluarga di rumah, teman yang janji hari ini akan ke kost tapi batal karena katanya di rumahnya hujan deras, seseorang yang sangat saya sesalkan tidak bisa saya temui sebelum berangkat karena dia memilih ketemuan di kampus padahal saya mulai alergi menginjakkan kaki di kampus saya dulu, hingga AREMA yang tidak mungkin bisa saya tonton langsung di stadion.
“Mau kemana mas?,” tanya seorang ibu di sebelah saya membuyarkan lamunan saya. Setelah saya ceritakan tujuan saya, kamipun bisa langsung akrab. Banyak sekali yang kita bicarakan, ternyata beliau juga pernah tiga tahun tinggal di Kalimantan mengikuti suaminya yang seorang TNI. Mulai dari Purwosari hingga memasuki pasar Porong kami terus berbagi cerita sebelum akhirnya saya berinisiatif untuk istirahat. Saya terlalu ngantuk setelah semalam cuma tidur beberapa jam saja karena tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa untuk saling cerita dan curhat dengan kakak.
Bukannya tidur, justru pikiran saya kembali melayang-layang. Semua wajah orang-orang yang pernah dekat dengan saya seolah berada tepat di depan mata mengucapkan selamat tinggal. Memang hanya beberapa orang saja yang tahu bahwa saya akan pergi. Bahkan seorang perempuan yang dari dulu waktu dia SMA hingga sekarang mahasiswi di UM ‘mengejar’ saya pun tidak tahu meskipun semalam kami sempat SMS-an. Seorang yang ingin saya temui sebelum berangkat kembali muncul di hadapan saya, saya bertanya kenapa dia tidak mau menemui saya ditempat yang saya inginkan padahal itu sangat berarti untuk saya. BRAKK!!! ban mobil masuk kubangan jalan dan saya pun kembali tersadar sebelum mendengar jawabannya. Dalam hatipun memaki-maki kubangan jalan yang tidak tahu sopan-santun seenaknya mengganggu lamunan orang.
Memasuki Tol Tanjung Perak tinggal saya dengan sopir. Tak ada percakapan sedikitpun. Sampai akhirnya tiba di pelabuhan sekitar pukul 21:00 WIB. Berarti saya masih harus menunggu kapal dua jam lagi. Ah lama sekali. Mengingat tas yang sangat berat, saya memanfaatkan jasa portir untuk membawakan tas dari tempat parkir menuju ruang tunggu hingga nantinya naik kapal. Dua puluh ribu rupiah saya pikir ongkos yang murah daripada harus membawa sendiri berdesak-desakan naik kapal apalagi jarak parkir ke kapal sangat jauh.
Tepat pukul 23:00 WIB pintu kapal dibuka. Beruntung saya menggunakan jasa portir sehingga saya bisa masuk ke kapal lebih awal. Cukup mengikuti di belakang, petugas portir sudah mencarikan tempat yang terbaik untuk saya. Saya memilih di dekat jendela agar dapat melihat ke luar kapal dengan leluasa setiap saat saya inginkan. Saya sangat suka melihat air.
Setengah jam kemudian kapal berangkat. Saya naik ke bagian depan luar kapal. Beberapa SMS saya kirim ke orangtua, kakak, dan teman untuk mengabarkan bahwa saya segera menyeberang dan sekaligus minta doa selamat. “Selamat tinggal Malang tercinta, selamat tinggal Jawa, tunggulah aku datang kembali dengan sejuta cerita manis di pulau seberang.”



moga skrg uda betah d sana yah
cerita tntg k adaan d sna dung…
Comment by cnied — December 8, 2007 @ 1:40 pm