April 8, 2008

Terimakasih Allah Kau Selamatkan Saya

Filed under: .:Catatanku:.
   Kemarin siang sekitar pukul 10.15 WITA saya keluar dari rumah. Setelah memakai jaket dan helm, motor yang baru saya beli sebulan yang lalu saya stater dan memasukkan perseneleng ke gigi 1 lalu saya tarik gas pelan-pelan. Sambil membaca,"Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniin..", melajulah motor dengan lambat meninggalkan pelataran rumah.Jadwal hari ini adalah saya akan ke kantor FIF bersama Budi yang juga bawa motor sendiri. Ya, motor yang saya kendarai saat ini adalah hasil saya beli dengan cara kredit. Sebenarnya saya tidak suka beli secara kredit, tapi hanya dengan cara ini saya bisa memiliki motor untuk saat ini. Mau meminta uang ke orangtua sudah tidak mungkin, karena saya sudah janji tidak mau merepotkan mereka lagi. Loh ko ceritanya malah ngelantur?….
 
   Sesampai di kantor FIF, ternyata tidak terlalu banyak customer sehingga saya bisa segera membayar angsuran. Sekitar 10 menit di dalam kantor, saya pun keluar sambil membuat rencana perjalanan berikutnya. Ke Gunung Tinggi, ya, sekalian mengecek SK pengangkatan di kantor BKD. Memang hampir semua kantor pemerintahan Kabupaten Tanah Bumbu terpusat di daerah Gunung Tinggi. Yang sekitar 21 Km jaraknya dari tempat saya tinggal.
 
   Memasuki daerah Gunung Tinggi, saya menambah kecepatan motor. Jalan yang beraspal bagus, tidak banyak tikungan, serta situasinya agak lengang membuat siapapun ingin memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Sesampai di kantor BKD ternyata saya mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan ketika saya menanyakan kepada seorang pegawai perempuan tentang kejelasan kapan turunnya SK. "Ngga tau ya mas, karena sekarang berkasnya masih di BKN," jawab pegawai itu. Dengan sedikit kecewa saya meninggalkan ruangan itu dan selanjutnya pulang. Ternyata di luar sedang hujan teras. Beginilah situasi di Tanah Bumbu saat ini. Pagi hingga siang sinar matahari sangat terik eh ternyata pukul 1 siang hujan deras. Sambil menunggu hujan reda, kami duduk-duduk di dekat pintu sambil ‘menikmati’ cantiknya dua siswi yang sedang magang yang katanya dari sebuah SMK di Jakarta.
 
   Setelah lebih dari 1 jam menunggu, akhirnya hujan bisa reda juga. Tidak ingin hujan datang lagi, kami pun langsung pulang. Sedikit berbeda dengan saat berangkat, saya memacu motor lebih kencang. Sebenarnya tidak terlalu kencang sih, cuma rata-rata 65 Km/jam saja. Saya harus berkejaran dengan hujan yang terus membuntuti di belakang.
 
   Saya benar-benar terkejut ketika tiba-tiba di depan saya sebuah tikungan ke kanan dengan sudut sekitar 90 derajat. Semakin membuat saya kaget karena jalannya menurun dan dari bawah muncul sebuah mobil dengan posisi agak di tengah jalan. Demi menghindari tabrakan, saya arahkan motor turun dari aspal. Dan sialnya ternyata roda belakang terpeleset sehingga "BRUAAKK…..!!!" motor terguling dan saya pun meluncur di aspal. Belum berhenti di situ, saya kembali terkejut ketika saya masih terlentang di aspal ternyata motor Budi muncul dari belakang mengarah ke kepala. Dengan masih tersadar, saya pun secara spontan mengangkat kepala berniat menghindari roda motor Budi yang seakan akan melindas kepala saya. Allah Mahapelindung, dengan suara ban yang nyaring bergesekan dengan aspal akibat terlalu kencang mengerem, motor Budi mampu berhenti sekitar 30 cm dari kepala saya. Alhamdulillaah. Saya tak henti-henti mengucap syukur karena terhindar dari kecelakaan yang sangat parah.
 
Dengan sedikit menahan perih pada tangan dan kaki, sambil dibantu Budi, saya menegakkan motor lagi. Saya juga melihat ada salah seorang penumpang mobil yang saya hindari tadi turun ingin membantu tapi telanjur saya sudah berdiri. Kemudian posisi spion yang ternyata pecah ketika jatuh tadi saya betulkan. Dan tanpa pikir panjang, motor saya starter dan langsung pergi. Saya sengaja tidak memeriksa luka saya, yang penting saya bisa segera pergi dari tempat itu. Setelah beberapa kilometer berjalan, saya berhenti. Saya memeriksa tangan kanan dan kaki kanan. Ternyata ada beberapa luka di sana.
 
   Saya heran kenapa hati saya tidak berdegup kencang seperti layaknya ketika mengalami kecelakaan. Bahkan saya menolak saran Budi untuk minum air putih dulu saat baru terjatuh. Ah tau deh. Mungkin karena kebetulan atau apa, malamnya sebelum tidur sebenarnya saya sempat mendengarkan teman yang bercerita pengalamannya kecelakaannya, kemudian ketika tidur saya juga bermimpi melihat sebuah truk yang terguling ke jurang. Terlepas entah itu firasat atau apapun, yang penting saya bersyukur masih diberi kesempatan hidup untuk beberapa waktu lagi.

February 18, 2008

Perkembangan Renovasi Stadion Gajayana

Filed under: .:Gila Bola:.

Hari ini lagi-lagi saya memulai mengakses internet dengan ritual dulu, ya saya selalu memulai dengan melihat, membaca, dan merasakan berita-berita yang berkaitan dengan AREMA FC. Nah kebetulan pas akses www.ongisnade.net saya melihat perkembangan renovasi stadion Gajayana Malang. Saya jadi merinding. Merinding karena bangga dan teringat selama saya masih di Malang saya selalu bersama puluhan ribu Aremania menikmati kehebatan AREMA FC di stadion ini. Entah sudah berapa ratus atau bahkan berapa ribu kali stadion ini menjadi saksi perjalanan AREMA FC. Mungkin jika stadion ini punya hati, dia juga merasakan kesedihan dan akan menangis saat AREMA FC harus turun kasta tahun 2004. Berikut beberapa foto perkembangan renovasi Stadion Gajayana. (klik untuk memperbesar foto)

Renovasi Stadion Gajayana     Renovasi Stadion Gajayana

Renovasi Stadion Gajayana     Renovasi Stadion Gajayana

Mungkin seandainya dalam Superliga 2008 ini AREMA menggunakan stadion ini akan semakin membanggakan. Meskipun stadion Kanjuruhan juga cukup besar. Atau mungkin digilir penggunaannya sehingga Pemkab dan Pemkot juga mendapat untung dari AREMA FC (seperti kata teman-teman Aremania).

Tapi saya juga bersedih karena saya harus memendam sangat dalam keinginan saya untuk menonton AREMA FC berlaga di stadion ini secara langsung. Bagaimanapun juga saya telah menjadi warga Kalimantan. Meskipun di hati saya selalu ada ruang untuk AREMA, tapi kecil kemungkinan tiap minggu saya bisa pulang ke Malang demi menonton AREMA. Ah nggak apa-apa, yang penting AREMA FC sukses saya sudah sangat senang.  

February 2, 2008

MUNGKIN

Filed under: .:Puisi:.

Mungkin kusesali tak sebelumnya kukenali dirimu
dan ketika bayangmu menghantuiku
inginnya ku merasakan kehangatan kasihmu

Mungkin kutangisi semua tindakan bodohku
yang membentangkan jurang jarak antaramu
inginnya kuputar kembali waktu berlalu

Mungkin kan kusalahkan sang pencipta
yang menciptakan wanita secantik dirimu
dan membuatku tak kuasa menahan gejolak

Mungkin kusesali tak kuindahkan pesonamu
dan ketika wangimu mengharumi
inginnya ku bertekuk lutut di hadapanmu

Mungkin kuratapi betapa tak berartinya diriku
yang tak sanggup merangkaikan kata
dan membuatmu tak lagi memandangku

Mungkin kan kubunuh diriku sendiri
yang menghentikan langkah tuk berusaha
menggapai dan memilikimu

January 17, 2008

Aremania (akhirnya) berontak juga

Filed under: .:Gila Bola:.

Menonton pertandingan semalam antara Arema Vs Persiwa dalam lanjutan 8 besar Ligina mengingatkan saya pada final Copa Indonesia I antara Arema Vs Persija. Ya, wasitnya seorang Jajat Sudrajat (sering diplesetkan Jajat Subejat). Pada Final Copa I tahun 2005 dulu, seorang jajat menghancurkan permainan Arema dengan caranya yang licik selalu berpihak kepada Persija (saat itu Jajat sempat dipanggil ke kamar ganti untuk mendapatkan teguran).

Nah ternyata semalam kembali terulang. Jajat kembali berulah dengan cara menganulir 3 gol Arema (bayangkan!!!). Okey mungkin 2 gol pertama masih bisa dimengerti, tetapi gol ke-3 yang benar-benar mutlak gol masih saja dianulir. Akibat kebrengsekan seorang wasit (jajat) beserta hakim garisnya, Aremania yang dikenal sebagai supporter paling sportif di tanah air ini tidak bisa menahan amarah lagi. Bukan dua kali ini saja jajat berulah, setiap Jajat memimpin Arema bertanding selalu saja memihak lawan Arema.

Padahal keberangkatan aremania ke kediri diawali dengan kedamaian. Sampai perbatasan, persikmania sempat menjemput. Masuk stadion dengan lancar bahkan ada pengumpulan tanda tangan tanda perdamaian dengan persikmania. Sayang akibat ulah wasit, semua menjadi berubah. Tak ayal, seketika PSSI menghukum aremania tidak boleh menonton di seluruh stadion
Indonesia selama 3 tahun!. Berlebihan? ya! seharusnya PSSI melihat secara obyektif. Apalagi aremania selalu dikenal damai. Kalaupun pernah rusuh karena untuk membela diri dari serangan supoter lawan. Selain itu, kejadian semalam karena wasit yang tidak fair dan petugas keamanan yang tidak sigap. Mungkin lebih bijak jika perlu dibedakan dengan kasus-kasus kerusuhan yang dilakukan suporter lain yang memang biasa rusuh.

Kembali ke soal Jajat. Penunjukan jajat sebenarnya perlu dipertanyakan. Karena Jajat punya sejarah yang buruk dengan arema kenapa dipilih lagi memimpin arema? Jangan-jangan ini skenario PSSI kembali ingin menghancurkan arema dan memancing aremania untuk anarkis?. Padahal masih teringat saat arema dikalahkan persipura di kandang sendiri, tidak ada sedikitpun ada kemarahan aremania. Karena kami (Aremania) paham bahwa dalam sepakbola selalu ada kalah dan menang. Akan tetapi kejadian semalam lain lagi masalahnya. Bagaimana pun aremania juga manusia. Bahkan saya sering dengar dari teman-teman aremania yang bilang, “percuma kita jadi supporter terbaik kalau selalu menjadi korban.” Ya, dengan berpredikat supporter
terbaik membuat aremania serba salah ketika mengalami gangguan dari supporter lain dan tindakan-tindakan wasit yang tidak fair. Apalagi semalam hanya kerusuhan di dalam stadion tanpa ada rembetan di luar stadion.

Kita lihat saja sanksi PSSI, karena PSSI terkenal organisasi paling bobrok dan penuh keplin-planan, ingat hukuman bonek yang seharusnya 3 tahun ternyata langsung dicabut ketika seorang napi (baca: Nurdin Halid) datang ke surabaya. BRAVO AREMA & AREMANIA!!!!

January 13, 2008

Chat dengan admin bonekcyber

Filed under: .:Catatanku:.

Tidak menyangka saya bisa chat ma bonex, niy semua karena saya sempat masuk ke webnya bonek trus menemukan salah satu ID-nya admin. saya masuk demi melihat berita "BONEX ANTI AREMANIA", nah di situ beritanya menyesakkan dada aremania. Nah sayapun meng-add ID tersebut ke YM saya. Berikut petikan hasil chat saya (tanpa sensor sedikitpun) tadi pagi sekitar pukul 09:00 WITA

fendhza: Hai
.:topha- sendiri:.: pa kbr?
fendhza: Kbr bAek
fendhza: Sopo iki boz
.:topha- sendiri:.: kera ngalam
fendhza: Hehe aremania ya
.:topha- sendiri:.: yup
fendhza: Gmana janu kok mundur
.:topha- sendiri:.: oya aq lupa dpt id fendzha dmn…
.:topha- sendiri:.: dia takut

fendhza: Kok bs lupa
.:topha- sendiri:.: takut ga sanggup bikin arema juara
fendhza: Ini aremania atau aremanit
.:topha- sendiri:.: aremania sam
fendhza: Hehehe km tau q dr bonex-cyber ta?
.:topha- sendiri:.: wakakakaka…
fendhza: Iya ta?
fendhza: Guyu mu meDeni
fendhza:
.:topha- sendiri:.: oh…..baru inget
.:topha- sendiri:.: yup, kmrn liat2 cybernya bonex

fendhza: Iya bener kah?
fendhza: Ouw pantesan byk yg pv
fendhza: Hehehe
.:topha- sendiri:.: kok gitu ya ngomongin aremania?
.:topha- sendiri:.: cuma dr sudut pandang bonex

fendhza: Di mana beritanya tah
.:topha- sendiri:.: ‘bonex anti aremania’ klo ga salah judulnya
fendhza: Bukan aku tuh. Tmen2 ambil artikel dari milis pSbya
.:topha- sendiri:.: ooooo…
fendhza: Ya itu tmen2 ambil dr milis
fendhza: Dah liat vidEo nya blm
.:topha- sendiri:.: video paan?
.:topha- sendiri:.: bukan video pelemparan bis arema kan?

fendhza: Di boNekcyber
fendhza: Liat saja
.:topha- sendiri:.: coba aja ntar
.:topha- sendiri:.: btw….sering nonton psby?

fendhza: Ya iyalah
fendhza: Jd pelipuT hehe
.:topha- sendiri:.: syukurlah…..kirain yg ikut lempar2 (’aq sering liat di tv) hehe…
fendhza: Wah iku biasa mas
.:topha- sendiri:.: oya?
fendhza: Dr musim ini cuman arema yg dilempar
fendhza: Toh yg dilempar kan bus milik sby
fendhza: Jd bus arema aman lah
.:topha- sendiri:.: ya syukurlah…brarti masih ‘menghargai’ arema sebagai rival terberat
fendhza: Sbnernya yg ngrusak pRmainan bukan boNEK tp ya ballah ama suTaji
fendhza: Km malang mana
.:topha- sendiri:.: memang yg mulai ngrusak permaianan ballah….tp sebelum masuk stadion bis arema udah rusak
.:topha- sendiri:.: mlg kota

fendhza: Kata sapa yg rusak
fendhza: Msh utuh kok
fendhza: Cuman pecah 1 kaCa aja
.:topha- sendiri:.: kaca depan dkt sopir pecah
.:topha- sendiri:.: itu untung ada polisi

fendhza: Itu pun yg nglempar anak kecil dan dah ktangkep
.:topha- sendiri:.: tp psby ke mlg ga pernah diapa2in kan?
.:topha- sendiri:.: semua sehat wal afiat

fendhza: Pernah kata sapa
.:topha- sendiri:.: dulu bgt
.:topha- sendiri:.: pas di katepil itu
fendhza: Itu mslah jadwal mas
.:topha- sendiri:.: pas masih bernama AFC (arema fans club)
fendhza: Coba kalu arema ke sby dl di pRTANdingan awal
.:topha- sendiri:.: sejak jd aremania sll damai…kecuali untuk bertahan
fendhza: Coba liat saja nanti
fendhza: Arema kan mau ke kdiri
.:topha- sendiri:.: pdhl arema sering di’bantai’ bonek sjk dulu di copa maupun di liga
fendhza: Kdiri kan ada dndam jg ma arema. Hehe
.:topha- sendiri:.: yup
.:topha- sendiri:.: gara2 dulu stadionnya ga cukup bwt arema

fendhza: Ya jelas aja
fendhza: Stadion bwt keDiri aja ga cukup
fendhza: Hehe
fendhza: Tp aneh mas
.:topha- sendiri:.: tp ga bakalan dobrak pintu stadion
.:topha- sendiri:.: ga kaya final divisi I psby di kediri
.:topha- sendiri:.: hehehe….

fendhza: Ya bda namanya jg final
fendhza: Tp keDiri ga ada gsekan smpe skr
.:topha- sendiri:.: bukan mslh ma persiknya mas
.:topha- sendiri:.: tapi kasian penduduk lokal sana

fendhza: Tp bonek dndam ma arema wktu prtandingan aja kan?
fendhza: Tp coba di mlg
.:topha- sendiri:.: ga juga
.:topha- sendiri:.: pas kita ke deltras juga dirusuhi ma bonek
.:topha- sendiri:.: akhirnya yg disalahin aremania…
.:topha- sendiri:.: pdhl kita dilempari dr luar

fendhza: Aku g blg sda
.:topha- sendiri:.: ingat ga?
.:topha- sendiri:.: yg dibahas boneknya kan?

fendhza: Gni lo mksudku
.:topha- sendiri:.: seep…
fendhza: Kenapa tman2 kalu ke mlg pk bju bonek slalu drusuhin
fendhza: Sdangkan di sby byk yg pk bju aremania ga ada yg ganggu
.:topha- sendiri:.: hehehe…..siapa bilang
fendhza: Bhkan di dpan stadioN byk yg jual atribut arema
.:topha- sendiri:.: mas klo ke toko elektronik gajayana
.:topha- sendiri:.: disitu yg julan sll pake kaos bonek
.:topha- sendiri:.: dan kita enjoy aja

fendhza: Skr q tanya di mlg ada g yg jual pSBYA pernak pernik
fendhza: Ya itu org lokal
.:topha- sendiri:.: prnh liat
fendhza: Dmana
.:topha- sendiri:.: cuma yg jualan kan juga mikir
.:topha- sendiri:.: kalo ga ada yg beli

fendhza: Tp aneh kan
.:topha- sendiri:.: silakan ke arema sport
.:topha- sendiri:.: dkt swalan trend pas perempatan
.:topha- sendiri:.: swalayan

fendhza: Di sby byk loh di tmpat2 byk yg jual arema
.:topha- sendiri:.: ya soalnya disana masih laku mas
fendhza: Gak gt
.:topha- sendiri:.: kan byk anak mlg kerja d sby
fendhza: Aq pnah tnya ma pnjual di mlg
.:topha- sendiri:.: iya?
.:topha- sendiri:.: trus?

fendhza: Iyo org mlg ga iso sukses mas kalu g ada sby
.:topha- sendiri:.: wakakakakakaka…..
.:topha- sendiri:.: ga jd tuhan aja neh? (yg bisa ngatur kesuksesan)

fendhza: Aq pk bju boNEK di jalan ae di pisuhi
.:topha- sendiri:.: alah mas jgn cengeng….
fendhza: Aq pnah tnya ma pnjual
.:topha- sendiri:.: apa kita yg ke sby ga sering jd korban?
fendhza: Dlm rangka apa dl ke sby
.:topha- sendiri:.: tanya paan?
.:topha- sendiri:.: jln2 aja…
.:topha- sendiri:.: klo nonton vs psby jujur aq ga brani

fendhza: Pk arema?
.:topha- sendiri:.: yup
fendhza: Ya emang kan g blh ntn
fendhza: Kan sdah jd ksepakatan
fendhza: Hahaha
fendhza: Pmain asli bina an sby kan byk di arema
fendhza: Ada 4 kan
.:topha- sendiri:.: hahahaha kok bahas gitu?
.:topha- sendiri:.: skrg jamannya profesional mas

fendhza: Mkanya
.:topha- sendiri:.: apa MU pemainnya dr manchester semua?
.:topha- sendiri:.: ga ada kan?

fendhza: Tp mreka lahir dr koMpetisi psbya
.:topha- sendiri:.: knp ga dikontrak aja?
fendhza: Jgn bndingkan luar mas
.:topha- sendiri:.: kan kasian dia nganggur, makanya diambil arema?
fendhza: Pmain luar itu kan byk dr luar
fendhza: Di ind aja cman 5
.:topha- sendiri:.: jgn (berpikiran) sempit mas
.:topha- sendiri:.: jgn klo psby pemainnya hrs dr sby, ga maju2 mas sepakbola indonesia
.:topha- sendiri:.: apa ronny, sutaji mo diambil?

fendhza: Tp kalu tim ga pnya koMpetisi ya gak maju
.:topha- sendiri:.: tp klo pake APBD brarti miskin..
.:topha- sendiri:.: dan miskin (adalah) awal ga maju ya kan?

fendhza: Udah gak tahun dpan udah g pk dana apbd
.:topha- sendiri:.: hehehehe…soalnya di divisi I
.:topha- sendiri:.: klo ada degradasi sih…

fendhza: Div 1?
fendhza: Km tau liga ga toh
.:topha- sendiri:.: wakakakakakaka….superliga man..
fendhza: Eh aq ada kbr
.:topha- sendiri:.: <ketawa ngakak sambil guling2>
.:topha- sendiri:.: kbr paan?

fendhza: Arema bisa di diskualifikasi dr superliga
fendhza: Tau ga krn apa
.:topha- sendiri:.: wakakakaka…jgn menghibur bonek yg gagal superliga…
.:topha- sendiri:.: kita tunggu aja di-disk apa ga? buktikan aja

fendhza: Ini beneran lu mau tau ga knrn apa
.:topha- sendiri:.: okey….
fendhza: Lu aremania pasti tau
.:topha- sendiri:.: apa?
.:topha- sendiri:.: hrs punya junior?

fendhza: Sik tahun dpan arema di dana i sapa
fendhza: Gak
.:topha- sendiri:.: wakakakaka…..bentoel
fendhza: Krn arema gak punya stadion milik arema sndiri
.:topha- sendiri:.: ye…..
.:topha- sendiri:.: emg psby punya? itu punya pemkot mas

fendhza: Benar kan?
.:topha- sendiri:.: wakakakaka…
.:topha- sendiri:.: baca aturan yg jelas mas

fendhza: Tp kan resmi
.:topha- sendiri:.: yg penting punya venue
fendhza: Kanjuruhan kan mlik persekam
.:topha- sendiri:.: di mlg tigl pilih gajayana ato kanjuruhan
fendhza: Ga bC brita y
.:topha- sendiri:.: ye……
fendhza: Gajayana mlik perSEMA
.:topha- sendiri:.: tau ga kanjuruhan yg ngelola sapa?
fendhza: Lu mash untng perSEKAM th bsk naik div utama
fendhza: Eh div 1
.:topha- sendiri:.: yg penting punya venue mas
.:topha- sendiri:.: terserah itu milik siapa yg penting didaftarin

fendhza: Ini aq bC artikel berita dr bli mas
.:topha- sendiri:.: dan gada perebutan dgn klub yg se level
fendhza: Aq gak mbujuk i
.:topha- sendiri:.: ya liat aja superliga besok, okey…
fendhza: Aq cuman ksh tau aja
.:topha- sendiri:.: ga perlu perdebatkan
.:topha- sendiri:.: kita buktikan….
.:topha- sendiri:.: palgai PSSI sering plinplan
.:topha- sendiri:.: ingat hukuman bonek seharusnya?
.:topha- sendiri:.: 3 taon, tapi……
.:topha- sendiri:.: ya itu gara2 PSSI bangsat itu mas
.:topha- sendiri:.: ga bisa dipegang omongannya
.:topha- sendiri:.: eh prnh ikut LCA
.:topha- sendiri:.: ga?

fendhza: Dl gajayana mlik arema persema. Tp itu mlik perSema kalu perSEKAM minta pasti arema ga pnya, mslh boNek itu pSsi pancen bAngsat. CobA km lihat 3x krusuhan antar suporter bhkan anarkis tp apa mreka jakmania dpt hukuman?
fendhza: Lca? Udah juara 2x masak ga ikut lca? Bisa aja lu guyoN
.:topha- sendiri:.: wakakakakakaka…….
.:topha- sendiri:.: rupanya nyari temen yg sama2 suporter anarkis yah?
.:topha- sendiri:.: bedanya bakar2nya ga parah bgt mas
.:topha- sendiri:.: bayangin orang sekitar stadion tambaksari skrg takut klo psby main

fendhza: Walah
fendhza: Arema g pnah bkar2 ta
.:topha- sendiri:.: pernah
.:topha- sendiri:.: bakar boneka boyo
.:topha- sendiri:.: di dlm stadion

fendhza: Skr udah beDA kok bonek
.:topha- sendiri:.: kmrn kok masih rusuh (lagi)?
.:topha- sendiri:.: bandingkan yah…

fendhza: Iya soalnya aremania kaya2 mkanya buaya mlik anakmlgdibkar
fendhza: Rusuh yg mana
.:topha- sendiri:.: baru bln kmrn kok lupa?
fendhza: Km blg musuh arema rusuh?
.:topha- sendiri:.: aq juga baca loh mas n liat di tv
fendhza: Lu ga ntn langsung aja kyk tau tau o aja
.:topha- sendiri:.: liat ongisnade.net mas…..byk yg ikut ke sana tau!
fendhza: Mas mas km itu aneh
.:topha- sendiri:.: liat tv, jawapos, detik.com…dll
fendhza: Kalu km lihat dw km blh ng
.:topha- sendiri:.: masa bagian admin cyber beritanya boong mulu seh?
fendhza: Ya trSERAH mau mandang bonek dr mana
.:topha- sendiri:.: yg jujur aja mas
fendhza: Trima ksh telah memandang boNEK yg jelek saja
.:topha- sendiri:.: oh ga?
fendhza: Yg baik dilupakan
.:topha- sendiri:.: kmrn udah brubah menilai bonek
.:topha- sendiri:.: cuma gr2 tgl 30 desember 2007, jadi balik lagi dey..

fendhza: Aku itu cuman pgn bonek arema akur
.:topha- sendiri:.: yg jelas skrg lebih bagus…
.:topha- sendiri:.: yup….setuju…

fendhza: Jd jgn bwt provokator
fendhza: Msh untng kan bus arema gak hangus
.:topha- sendiri:.: oopz…sorry-sorry rada emosi mas hehehehe…..
.:topha- sendiri:.: masnya sih mancing dulu

fendhza: Msh untng pmain ga cdera krn ulah bonek
.:topha- sendiri:.: alhamdulillah ga seperti taon 2006
fendhza: Sbenernya yg mancing krusuhan itu bkan dr suporter mas tp pemain nya dw
.:topha- sendiri:.: ya sebenarnya penonton hrs dewasa
.:topha- sendiri:.: biarlah dilapangan pemain ngapain…

fendhza: Pmain nya kurang dwasa
.:topha- sendiri:.: nah?
.:topha- sendiri:.: ngelak lagi….

fendhza: Tp kan benar
.:topha- sendiri:.: tp klo pas sby menang kok ga rusuh?
.:topha- sendiri:.: mgkn mas bisa nonton arema di mlg dey…

fendhza: Km g tau kan pas balah mau keluar di provokasi pmain cdangan arema
.:topha- sendiri:.: ntar bisa  disharing ke bonek ilmunya
fendhza: Itu yg memancing
.:topha- sendiri:.: mas di mlg jg sering pemain berantem
fendhza: Gak akan bonek ke mlg krn sdah pRjanjian
.:topha- sendiri:.: hahahaha…..semu!
.:topha- sendiri:.: tau ga psby lawan arema copa 2006?
.:topha- sendiri:.: di mlg ada suporter bonek cuma ga pake atribut
.:topha- sendiri:.: pas di gajayana
.:topha- sendiri:.: selama dia ga ngisruh ya sudah

fendhza: Nah jgn gt di sda jg ada
fendhza: Mlh ini parah
fendhza: Mreka buat pROVOKASI
.:topha- sendiri:.: nah mas ntar bisa blajar byk ke aremania
.:topha- sendiri:.: hei man…
.:topha- sendiri:.: katanya mo damai…

fendhza: Ktika dlihat trnyata br ktp mlg
fendhza: Kalu sakera gmana?
fendhza: Lu jg pnya gsekan kan
fendhza: Hahahaha
.:topha- sendiri:.: itu mah  se-guru ma bonek…
.:topha- sendiri:.: tp org pasuruan di mlg? buanyak….

fendhza: Aq pnya teman aremania di ym tp gak kyk kamu
.:topha- sendiri:.: makanya masnya jg provokasi gt…
fendhza: Dia g pnah jelekin boNek pas pRTANDINGAn kmarin jg dia tlp aku tanya skor
fendhza: Lha sampean pRTANYA an mu aneh
.:topha- sendiri:.: sama aq jg tanya ma tmn bonek hehehehehe….
fendhza: Aku tanya km dah liat video di cyber boNek ga mlh lu ngoMoNg apa vidEo pelemparan bus arema
fendhza: Itu yg mancing aq jg ungkit2 kejelekan arema
fendhza: Niat aq bAek mau ngeshare vidEo buat umum
fendhza: Arema mau download pun ga aku larang
.:topha- sendiri:.: cuma kmrn pertama liat webnya aq mangkel ma beritanya tu loh
.:topha- sendiri:.: so mo liat2 yg laen malas
.:topha- sendiri:.: pdhl jg pengen

fendhza: Mangkel biasa. Lu jg bisa liat buku tamu web arema byk yg hujat boNek kan.
fendhza: Aq jg mangkel tp aq anggap itu biasa
.:topha- sendiri:.: tp bukan beritanya admin mas
fendhza: Kalu arema bonek damai itU luar biasa
.:topha- sendiri:.: klo admin kan musti di filter dulu mana yang pas dan ga…
fendhza: Lu msh mending pv aku
.:topha- sendiri:.: wah mas sendiri ga menginginkan damai…
.:topha- sendiri:.: apalagi mati krn (ikut kerusuhan dlm perandingan) bola ga bakalan masuk surga loh

fendhza: Slh dw masuka web kandang buaya
.:topha- sendiri:.: hahahahaha….
.:topha- sendiri:.: panas niy ye?

fendhza: Jd ya siap2 aja panas
fendhza: Kalu ga panas masuk aja web managemenqolbu
.:topha- sendiri:.: <tertawa ngakak….>
fendhza: <bergaya monyet manyun>
.:topha- sendiri:.: hijau lambang perdaimaian…dingin mas….
.:topha- sendiri:.: piss…piss…

fendhza: Hahaha
.:topha- sendiri:.: oya silaturahmi anta suporter di mlg kmr ikut ga?
.:topha- sendiri:.: pas hbs idul fitri

fendhza: Ga ikut aq krja
.:topha- sendiri:.: seru habis
.:topha- sendiri:.: pentolan2 "musuh" kayanya jg datang loh

fendhza: Ya iya
fendhza: Pacarku anak mlg mas
.:topha- sendiri:.: oya ?
fendhza: Tp aq ga pnah apeli dy
.:topha- sendiri:.: knp? takut singa?
fendhza: Tp dy yg apeli aku

(bla bla bla…..masih panjang lagi namun suasana sudah dingin dan nyantai, thx ya bro)

 

Belajar bikin image vector

Filed under: .: Desain:.

Akhir-akhir ini saya suka melihat gambar-gambar kartun yang mirip sekali dengan orang yang digunakan sebagai karakter (katanya disebut gambar vector). Penasaran sekali bagaimana cara membuat. Kalau menggunakan cat air di atas kertas atau cat minyak di atas kanvas mungkin saya sudah pernah meskipun tidak sering, tapi menggunakan komputer saya belum pernah. Pernah suatu ketika saya diajarai seorang teman yang kebetulan kuliahnya jurusan grafis. Tapi begitu teman saya pergi, saya lupa lagi emoticon (tanks ya arip & yudo).

 

Nah ketika sedang browsing internet saya melihat sebuah gambar yang sangat bagus dengan gaya vector. Dalam hati saya bilang, "Ah masa gitu aja saya ga bisa." Selesai ngenet saya janji akan membuatnya. Dengan berbekal laptop, CorelDraw 12, Photoshop CS2, dan gambar-gambar yang tersimpan di laptop, saya pun mencoba membuat. Ganti-ganti gambar tidak ada yang selesai, semua malah ancur antah brantah. Terus saya mencoba lagi menggunakan sebuah gambar  yang menurut saya lucu (thanks ya gorgs, sorry foto lu gw pake emoticon).

Karena saya tidak terlalu mahir CorelDraw, saya cuma menggunakannya untuk men-trace gambar saja. Selanjutnya hasil trace-nya saya olah lagi menggunakan photoshop cs2.

Gambar asal:

 

Hasilnya olahan:

Hehehe….lucu juga, ternyata saya juga bisa.  Akhirnya saya menyadari, asalkan kita mau maka apapun akan kita dapat. Tidak tahu besok-besok fotonya siapa lagi yang akan jadi ‘kelinci percobaan’ saya hehehehe…..

 

January 11, 2008

Football is Our Religion

Filed under: .:Gila Bola:.

Yuli The ConductorsDiambil dari forum Aremania di LigaIndonesia.com, tulisan dari Andi BachtiarYusuf, sutradara The Conductors. Nuwus untuk Mbak Pur yang melemparnya ke milis Arema.

“Football without fans is life without sex” -Jock Stein-

Uki Nugraha memandangi telepon genggam di tangannya, ia tersenyum, seringainya dipamerkannya pada saya. “Kawan-kawan Maczman mengirim pesan ini,” sebaris pesan singkat terbaca “Luar biasa sekali Daeng, aksi Aremania bagus bener,” Saya dan Uki serta merta tertawa, sementara Stadion Kanjuruhan di kawasan Kepanjen, Malang terus digemuruhi aksi Aremania. “Kalian nonton di tv, aku disini…..merinding!!!!” balas Uki lewat pesan singkat pada rekannya di seberang pulau sana, di Makassar.

Malang memang selalu membuat pencinta sepakbola sejati merinding, empat kali saya ke Malang demi sepakbola, empat kali itu pula saya terpukau atas keheroikan orang Malang. Saat orang menyebut sepakbola Indonesia sudah mati, Aremania menunjukkan bahwa hidup itu masih ada.

Hari masih menunjukkan pukul 09.30 WIB saat saya dan tim kerja saya turun dari kereta. Kami baru saja datang dari Sleman menyaksikan pertandingan PSS-Persija, sementara di Malang, Arema-PSM adalah sasaran kami. Di Stasiun Kotabaru, 6 jam sebelum kick off atmosfer sepakbola sudah benar-benar terasa.

Fans Feyenoord RotterdamSaya jadi teringat hampir tiga tahun lalu, di Rotterdam, di sebuah hari Kamis saat Feyenoord, tim kebanggaan masyarakat Rotterdam bersiap menghadapi Schalke di babak 8 besar UEFA Cup.

Satu hari penuh saya melihat Rotterdam yang menjadi Feyenoord, orang-orang pergi ke kantor dengan dasi Feyenoord, anak kecil ke sekolah dengan tempat makan Feyenoord, ibu-ibu di pasar dengan syal milik tim yang saat itu diperkuat oleh Shinji Ono tersebut sampai jendela-jendela dengan bendera Feyenoord terpajang. (foto dari sini)

Di Malang saya merasakan kekuatan atmosfer yang sama, dan menemukan kembali bahwa sepakbola selalu memiliki kekuatan lebih besar dari kekuatan duniawi lainnya.

Orang menyebut dirinya Monas, tak jelas apa penyebabnya. Dialah orang yang nantinya bertugas mengantarkan kami selama kami berada di Kota Malang. Lelaki yang ukuran tubuhnya sama sekali tidak mirip Monas ini adalah seorang supir angkot (angkutan kota-red) dan seperti ritual-ritual pendukung tim dimanapun di dunia, Monas sedang menghabiskan minuman beralkohol di depan stasiun sembari menunggu kami.

Ia tentu saja tidak sendirian, 5 orang rekannya juga berada disitu. Mereka terus menghabiskan berbotol alkohol sembari bernyanyi mars-mars Aremania “Disini Arema berjaya, disini Arema menang…….” Hanya salah satu contoh senandung yang menyelinap dari aroma alkohol di nafas mereka. Di tembok stasiun, gamba-gambar Singa sebagai lambang tim kesayangan terserak di mana-mana. Bisa berbentuk graffiti bisa berbentuk sekedar slogan. Hari itu Minggu 22 April 2007, Singo Edan akan menghadapi tim Juku Eja dari Makassar.

Malang terletak sekitar 2 jam perjalanan dari Surabaya, sejak lama kota ini memendam persaingan yang sangat kental dengan saudara mereka di Surabaya. Apapun yang berbau Surabaya selalu mengundang kebencian bagi mereka, jangan heran jika Aremania yang mempunyai kecenderungan damai justru selalu bentrok jika berjumpa dengan para Bonek dari Surabaya atau apapun yang berbau Kota Buaya.

Surabaya bagi mereka adalah simbol kemapanan kota besar, menjadi beda dengan kemapanan adalah salah satu tujuan yang ingin dicapai kelompok masyarakat ini. Konon, budaya walikan adalah salah satunya. “Laskar Ongis Nade adalah sebutan kami,” ujar Yuli Sugianto alias Yulis Soemphil salah seorang pentolan Aremania dari kawasan Sumpil. Ciri walikan atau terbalik adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh Arek Malang, tidak oleh masyarakat lain “Begitu kira-kira Fusuy,” Yuli tertawa saat menyebut nama saya yang disebut secara walikan.

Aremania di Stadion Kanjuruhan
foto diambil dari sini

Berbeda seperti Jakarta di hari pertandingan, Malang berubah menjadi jauh lebih hidup. Seperti di Rotterdam dan kota-kota Eropa lainnya, orang Malang tiba-tiba merasa wajib untuk mengenakan segala atribut Arema. Ratusan motor bergerak menuju Kepanjen, ribuan orang berjalan di pematang sawah yang praktis mengelilingi Stadion yang terletak di pinggir kota tersebut. Puluhan angkutan umum dan kendaraan pribadi lainnya pun ramai dipenuhi Arek-Arek Malang yang ingin menyaksikan timnya menaklukkan lawannya “Taklukkan lawanmu di kandang singa….” Teriak mereka di penjuru kota Malang.

Handoko alias Benjol adalah seorang Aremania sejati. Walau akibat bekerja ia terpaksa mengurangi frekwensi datang ke stadion, Benjol tetap berhati Ongis Nade “Arema adalah perlawanan!” tegasnya. Bisa jadi ia benar, Singo Edan sebenarnya hanyalah salah satu contoh dari tim yang tidak mendapat bantuan dana dari pemerintah daerah, namun tim ini adalah satu-satunya tim yang mendapat dukungan penuh dari masyarakat yang berdomisili disitu “Bahkan mereka bisa jadi jauh lebih antusias daripada tim pelat merah lainnya,” ujar Firmansyah Husein, seorang rekan yang bekerja di sebuah stasiun TV swasta.

Di Malang ada satu tim besar lain “Tapi bagi kami mereka kecil,” ujar Benjol dengan mimik sangat serius. Tim dengan kostum merah itu bernama Persema (Persatuan Sepakbola Malang), tapi tim ini sama sekali tidak memiliki tempat di hati Arek Malang. “Ada sih yang datang nonton, tapi mereka bukan pendukung hanya sekedar menonton,” ujar Cahyo seorang fotografer media olahraga di Indonesia. “Arema menghidupi diri mereka sendiri, tanpa bantuan siapapun, kami tim profesional dan mungkin satu-satunya di Indonesia,” Yuli mengangkat gelas bir miliknya menegaskan keyakinannya.

Indonesia adalah negara dengan fanatisme sepakbola luar biasa, saya mencatat bahwa atmosfer sepakbola di Indonesia mampu mengalahkan atmosfer sepakbola Eropa sekalipun. Bahkan Arya Abhiseka yang pernah bekerja di jaringan O Globo, Brazil dan sempat menyaksikan bagaimana sepakbola diperlakukan di Amerika Latin menyebut “Saya menempatkan Aremania di jajaran 5 besar terbaik di dunia,”

Fanatisme dan antusiasme luar biasa ini memang belum diikuti oleh prestasi tim nasional yang memadai, atau sekurangnya berbanding lurus dengan kegilaan-kegilaan itu sendiri. Tapi, di negeri ini sepakbola adalah alat politik yang luar biasa. Seorang Gubernur bisa menjadi pusat perhatian dan simpati saat ia terus menggelontorkan dana besar pada tim lokal di kota tersebut. Kandidat Bupati atau Walikota dengan janji memajukan sepakbola lokal dengan dana besar bagi tim setempat dijamin akan mendapat tempat di hati rakyat. Konon seorang Walikota yang sudah merosot popularitasnya tiba-tiba menjadi sosok paling terkenal saat ia mengalihkan beberapa dana pendapatan daerah bagi “perkembangan” sepakbola di kota tersebut.

“Bahkan ada daerah yang anggaran timnya bisa lebih besar daripada pendapatan asli daerah tersebut,” tulis sebuah media. “Tapi itu tidak berlaku disini!” tegas Benjol. “Pemerintah berarti kemapanan dan politik adalah manipulasi,” tambahnya dengan nada penuh semangat “Bahkan warna merah yang mereka (Persema) pakai adalah hasil rekayasa partai politik penguasa,”

Pembicaraan ini saya alami kurang lebih 2 bulan sebelum kedatangan selanjutnya yang saya tulis di awal cerita ini. Saat itu saya merasa Benjol berlebihan, ketika kembali ke Malang untuk pertandingan lain, saya menyetujui semua ucapan Benjol tentang perlawanan tadi. Berada diantara Aremania selama total 7 hari, saya merasakan kebencian mereka yang besar pada dua hal, Surabaya dan Persema! “Ini bukan soal derby tapi lebih pada soal harga diri kami,” tegas Yoseph Nanda Nafasan alias Kepet.

Harga diri? Bisa jadi, rasa mandiri itulah yang mungkin mereka sebut sebagai harga diri. Tak terbayangkan dalam diri mereka bagaimana hidup seperti kerbau yang dicocok hidungnya. “Harga diri ini yang membuat kami pasti membeli karcis jika nonton ke stadion,” jelas Isa Prio Utomo alias Kampret.

Fakta lain juga menyebutkan bahwa sifat Arema memang sudah ada dalam diri Arek Malang bahkan jauh sebelum tim ini lahir di tahun 1987, apalagi Arema adalah akronim dari Arek Malang.

Panggil saja dirinya Yuli, di Malang bahkan anak-anak kecil yang kami jumpai di tengah jalan bisa akan mengenali nama lelaki berusia 31 tahun tersebut. Di luar stadion ia adalah sosok yang menyenangkan, pria yang sangat ramah dan selalu tersenyum. Tapi di dalam stadion, saya membayangkan Mick Jagger saat menjadi saksi bagaimana seisi stadion menghormati dirinya.

Bayangkan, ia datang dari sisi utara tribun timur yang hari itu sekurangnya dipadati 35.000 Aremania. Tak pernah Yuli datang jauh-jauh waktu, ia memilih 30 menit sebelum pertandingan sebagai saat terbaiknya “Karena 30 menit pas untuk memanaskan suasana dan tidak terlalu membuat mereka jenuh,” jelasnya. Dari sisi utara tribun timur ia bergerak perlahan menuju “panggungnya” tepat di tengah tribun timur.

Kanjuruhan yang sudah dipadati paling tidak 35.000 orang mendadak menyepi. Mereka yang berada di tribun timur sontak mengambil satu langkah mundur untuk memberi jalan bagi “sang superstar”. Dengan senyumnya yang simpatik, Yuli melangkah menuju “singgasananya”, hampir di setiap langkah ia terpaksa berhenti untuk menerima tawaran minuman beralkohol dari Aremania. Saya menduga, bisa jadi ia sudah menenggak total 2 botol saat berdiri di depan Aremania.

Stadion mendadak hening dan Yuli sudah berdiri di depan mereka, maka dimulailah aksi-aksi tersebut. Orang bilang sepakbola Indonesia adalah pangkal muasal kerusuhan, terus terang saya selalu tidak menemukannya setiap menyaksikan tim apapun bertanding. Saya selalu menemukan keceriaan, warna hidup dan makna hidup yang luar biasa. Di Malang saya menemukan arti itu menjadi lebih besar.

“If you also have football in your country, means you are civilise,” ujar Antony Sutton seorang Gunners yang kini tinggal di Jakarta. Orang London yang menyebut dirinya berasal dari “500 metres from the home of the real football,” ini menemukan orang Indonesia memahami arti sepakbola sebenarnya. “Just like us, when we’re really believe in the game 10 years ago,”

Yuli The Conductors
foto oleh zoel

Yuli adalah magnet, setiap gerakannya menjadi dogma yang diikuti oleh para Ongis Nade yang berada di stadion. Saat tangannya bergerak keatas, semuapun mengikuti, ketika tubuhnya yang kurus condong ke kiri atau ke kanan, nyaris tak ada yang lewat untuk tidak mengikutinya. Puncaknya saat seisi stadion menyanyikan lagu ‘Satu Nusa Satu Bangsa’, bergetarlah Kanjuruhan oleh satu gerakan yang sama dan nyanyian yang sama, ini pun masih dipuncaki lagi saat mereka akhirnya mampu menaklukkan Persebaya 2-1 atau PSM 3-0.

Sementara Stadion Gajayana markas Persema sepi dari penonton, Stadion Kanjuruhan si kandang singa dipadati oleh sekurangnya 45.000 Aremania yang terus bersorak memberi dukungan. Hari itu adalah hari yang sama kala Persema memukul PSSB di Gajayana, di jantung kota Malang. “J*#*uk!!! Harusnya mereka kalah saja,” ujar Kampret.

Tak ada satupun Aremania yang senang saat tahu saudara sekota mereka menang 2-0 di kota mereka. “Tim macam ini bagusnya dibubarkan, mereka sama saja dengan Bonek, kami ini bondo duit (punyanya duit) mereka bondo nekad (punyanya nekad),” sergah Yuli. Menjadi mandiri memiliki kebanggaan tersendiri, padahal secara akar tradisi Arek Malang baru menyebut diri mereka Aremania dengan fanatisme sedahsyat sekarang barulah di sekitar awal 1990an, bisa jadi malah kala Arema menjuarai kompetisi profesional Indonesia saat itu alias Galatama.

Sebagai sebuah fanatisme, Aremania mungkin saja masih baru. Namun kegilaan, fanatisme, hasrat dan segalanya bisa jadi lebih dahsyat dari yang dimiliki oleh pendukung fanatik dari tim-tim dengan tradisi panjang macam PSM, PSMS, Persib atau mungkin Persebaya sekalipun. “Baru kali ini berada di Kanjuruhan dan kali ini pula saya terkesima,” ujar Uki putra Sulawesi asli yang datang ke Malang khusus demi PSM.

“Usia Arema memang belum panjang, baru 20 tahun di 2007 ini, tapi fanatisme Aremania seperti berusia ratusan tahun,” sergah Firmansyah yang berulang kali menyayangkan pilihan saya menjadikan Jakmania sebagai obyek dokumenter sepakbola pertama. “Saya bukan mau bilang bahwa Jakmania jelek, tapi Aremania yang terbaik,” tentu saja pembelaan diri saya adalah, jarak dan dana menjadi kendala, apalagi “Semua sponsor bilang saya gila saat datang ke mereka dan berkata minta uang untuk bikin dokumenter suporter sepakbola Indonesia,” kelit saya jujur.

Menelusuri kota Malang membuat saya benar-benar merasa berada di sebuah kota sepakbola di Eropa. “Football is my religion, The Valley is my church,” adalah salah satu contoh slogan yang saya lihat di tembok Tenggara kota London dimana Charlton FC berada. Pria dengan tato bergambar singa di lengan atau dadanya, patung singa yang terpajang di sudut-sudut jalan, mobil yang dilukis singa sampai anak-anak kecil yang terus saja menyanyikan mars terhadap Aremania.

“Suporter sepakbola adalah orang terkaya di dunia, mereka bisa bepergian kemana mereka mau mengikuti tim kesayangan,” kisah Benjol “Dulu saya kaya, sekarang jatuh miskin karena bekerja dan berkeluarga,” sambung Benjol. Kehilangan banyak waktunya di tempat pekerjaan, tidak membuat lelaki berusia 29 tahun ini menjadi lembek, di hatinya masih terpahatkan singa dan kediamannya masih saja menjadi tempat berkumpul Aremania lainnya. Saya dan tim kerja saya juga memilih untuk tidur di tempatnya selama kami berada di Malang.

“Tapi saya tidak pernah keluar dari Aremania, bahkan tidak pernah masuk,” wajahnya sangat serius. Baginya dan bagi seluruh Aremania, menjadi Aremania dan mencintai si Singa bukan masalah kartu anggota tapi lebih dalam dari itu, yakni di hati dan jiwa.

Aremania praktis tidak pernah dilahirkan, agak sulit melacak kapan mereka mulai terlihat di stadion. Ada yang menyebut saat Singo Edan menjuarai Galatama, ada yang menyebutnya saat Arema pertama kali mentas di Gajayana, atau ada pula yang menyebut bahwa Aremania sudah ada jauh sebelum Arema dilahirkan “Aremania yang sepakbola ya ketika Arema lahir, tapi jauh sebelum itu kami sudah ada, karena Aremania adalah Arek Malang dan kami semua ini adalah Arek Malang,” jelas Kepet.

Tanpa organisasi dan ketua membuat Aremania menjadi sangat independen bahkan di masalah pengaturan diri mereka sendiri “Jika pun ada korwil, itu lebih karena memang dibutuhkan sebagai titik-titik penjualan karcis,” jelas Kampret.

Kemandirian mereka juga tercermin saat pergi mendukung timnya bertandang ke luar kota. Tidak ada kuota kapasitas stadion dimanapun yang sanggup menahan laju kedatangan mereka, tidak juga PSSI. Ketika kelompok suporter lain sibuk mengatur bagaimana tata cara menonton tandang, Aremania langsung angkat tas dan berangkat menuju kota tujuan dengan bekal secukupnya. Di kota tujuan itulah mereka biasanya baru bertemu dengan teman-teman sekampung mereka.

“Tak ada ketua, tak ada struktur organisasi dan tak ada kartu anggota, tapi Anda lihat saja sendiri bagaimana kami hidup,” Benjol menegaskan, tumpukan karton susu dari tempat ia bekerja terlihat memenuhi sebagian ruang tamunya. Saya sudah membuktikan sendiri penjelasan-penjelasan ini, baik di Malang beberapa waktu ini atau di Jakarta 3 tahun lalu, saat mereka berada di posisi 2 dari bawah dan sudah dipastikan akan terdegradasi.

Hari itu di Lebak Bulus mereka bertarung melawan Persija, sama sekali tidak menentukan karena apapun hasil, Singo Edan akan terlempar ke Divisi I. Sepikah dukungan? Sama sekali tidak, catatan menyebut setidaknya 3000 Aremania datang ke Jakarta. Bandingkan dengan tim-tim lain yang berada dalam keadaan kritis yang sama, saya memang tidak menyaksikan semuanya. Tapi setiap kali saya menjadi saksi, hanya segelintir pendukung yang datang, lebih parah lagi banyak pendukung sepakbola yang memilih siapa lawan. “Kalau perlu, pergi ke neraka pun Aremania akan pergi mendukung,” kalimat ini terpampang di situs Aremania.

Aremania adalah fenomena, publik sepakbola Indonesia mengenal mereka sebagai salah satu pelopor gerakan suporter atraktif di Indonesia. Mayor Haristanto, pendiri Pasoepati (Pasoekan Suporter Sejati) di Solo menyebut Aremania sebagai “Soko guru Pasoepati,”. Di kala suporter lain masih mendukung dengan cara “biasa”, Aremania memberikan sesuatu yang berbeda.

Suporter Boca Junior di La Bombonera
Suporter Boca Junior di Stadion La Bombonera. (foto diambil dari sini)

“Bermain di Bonbonera berbeda dengan di Eropa, hanya pendukung Boca Juniors yang terus bernyanyi sepanjang 90 menit pertandingan,” ujar Juan Roman Riquelme, bintang Argentina yang baru saja kembali bermain di negerinya setelah beberapa tahun berada di Eropa bersama Barcelona dan Villareal. Riquelme jelas salah! Ia tampaknya harus sowan ke Indonesia agar tahu bahwa di negeri ini, para fanatis juga tahu bagaimana cara mendukung tim kesayangannya dengan benar.

Sama seperti di Amerika Latin, di Indonesia tontonan sepakbola adalah agama dan stadion adalah kuil persembahan pada agama tersebut. Jika saja negara bisa mengakui lebih dari 5 agama, maka sepakbola akan mendapat tempat di jajaran kepercayaan tersebut. Aremania adalah fakta, bukan fenomena, kecintaan mereka pada Arema lebih tinggi dari kecintaan mereka terhadap diri mereka sendiri.

Well…Malang memang bukan Jakarta, di kota itu klub sepakbola adalah nafas bagi mereka, representasi diri yang disematkan menjadi kebanggaan seluruh masyarakat kota. Ketika di ibukota, kelompok suporter sepakbola dianggap sebagai biang pengacau, maka disini semua orang adalah “biang pengacau” tersebut, karena mereka semua mencintai satu ikon yang sama, Arema Malang.

(Andi BachtiarYusuf, filmmaker & football reverend)

December 31, 2007

Pertama kali merasakan Idul Adha di Borneo

Filed under: .:Catatanku:.

Merayakan Idul Adha di luar kampung halaman atau di luar kota sudah biasa saya rasakan, tapi kali ini benar-benar beda karena saya merayakannya di Kotabaru KAL-SEL. Dan tentu saja ada perbedaan dengan di asal kota saya, Malang.

Beberapa hari sebelum Idul Adha bibi saya yang di Kotabaru sering menelpon merayu saya agar mau merayakan Idul Adha di kotanya. “Rabu sore langsung berangkat aja, nanti sampai sini sekitar 1 jam kalau naik Speedboat, nah besoknya shalat Ied di sini…..”,kata bibi saya waktu itu. “Wah saya gak bisa kalau hari Rabu, bulik! Saya ada tugas yang harus saya…….,” jawab saya mencoba memberi penjelasan. Memang hari Rabu saat itu kegiatan saya padat, mulai pagi hingga siang. Selain itu juga pada hari itu saya punya agenda menonton siaran langsung Indonesia Selection Vs Dortmund bersama teman-teman saya. Apalagi saya harus segera menyerahkan beberapa tugas tepat pada saat nanti masuk setelah libur cuti bersama tanggal 26 Desember 2007.

Kamis pagi (20/12/07) hampir saja saya tidak mengikuti shalat Ied karena tertidur. Memang setelah shalat shubuh saya ingin tidur lagi barang sebentar karena saat itu saya masih sangat mengantuk dan apalagi di luar masih hujan dan udara dingin sekali. Saya terbangun ketika tetangga sebelah memanggil-manggil nama saya sambil mengetuk pintu. “Ikut shalat Ied gak?,” tanyanya. Saya benar-benar terkejut karena di hape saya telah menunjukkan pukul 07:02 WITA, berarti saya tidur tidak hanya sebentar. Setelah mandi beberapa saat, saya langsung berangkat ke masjid sambil mengendarai motor bersama Pak Dhe (panggilan teman serumah dengan saya). Ternyata baru sekitar 10 menit duduk dan mengikuti takbir, shalat Ied dimulai.

Selesai shalat Ied, saya nonton siaran langsung khutbah Idul Adha di Masjid Istiqlal. Karena setelah khutbah tidak ada tayangan menarik lagi, saya pun pergi ke lab buka internet. Setelah beberapa menit ternyata juga membosankan. “Ah, mau ngapain lagi? Ngenet malas, ngerjain tugas gak nafsu, mau pulang juga jauh,” gerutu saya kepada seorang teman yang ikut ke lab. Dia pun hanya tertawa melihat kegelisahan saya.  Padahal saya tahu dia juga merasakan hal yang sama, karena dia juga sama-sama baru datang di kota Batulicin, dan dia pun juga lama tinggal dengan saya selama kuliah di Malang.

Daripada terus gelisah, tidak ada salahnya kalau ke Kotabaru saja. Biarlah tugas diselesaikan nanti setelah pulang. Lagipula liburnya masih panjang. Pikiran ‘malas’ saya mulai keluar.  Dan ternyata saya lebih sreg dengan pikiran tersebut. Dan ternyata untuk kali ini teman saya juga sreg dengan pikiran saya. Dan tanpa berpikir lama, kami pun mematikan komputer dan langsung ke rumah masing-masing untuk berkemas-kemas.

Beberapa saat kami telah siap dengan sebuah tas di punggung berisi pakaian. “Minimal 3 hari di sana,” saya memberi tahu teman saya mengenai lama tinggal di Kotabaru sambil berangkat menuju jalan raya. Kami pun mencegat taksi (istilah orang Kalimantan menyebut mobil angkutan penumpang). Sampai di pasar Simpang Empat, kami turun dan jalan kaki menuju pelabuhan. Untuk menyeberang ke Kotabaru dapat ditempuh dengan 3 alternatif, kalau naik kapal ferry dengan membayar Rp 17.000;/orang, speedboat membayar Rp. 50.000;/orang(jika loket masih buka, bisa membeli tiket  seharga Rp 35.000/orang), dan kapal klotok (kapal untuk nelayan yang suara mesinnya tok tok tok…) Rp…….(saya belum tanya :D ). Ketiga cara tersebut paling cepat adalah naik speedboat karena cuma butuh waktu sekitar 1 jam dan langsung menuju pusat kota (kebetulan pusat kotanya dekat pantai).  Beda dengan kapal ferry yang sekitar 1,5 jam dan pelabuhannya masih jauh dari pusat kota.

Setelah terkumpul 4 penumpang, speedboat pun mulai bergerak. Empat tahun yang lalu saat saya naik speedboat di sini bersamaan ada ombak sehingga selama perjalan kita serasa dibanting-banting. Speedboat yang ringan dan melaju dengan kencang akan jumping tiap melewati ombak. Semakin kencang melaju, kita akan semakin sering merasakan ‘terbang di udara’. Untuk orang yang suka mabuk perjalan, ibu menyusui/ibu hamil, orang masuk angin, dan pengidap lemah jantung sangat tidak disarankan naik speedboat di air yang bergelombang karena banyak masalah akan terjadi. Saya bersyukur kali ini tidak ada ombak yang berarti, sehingga kami pun bisa menyeberang dalam waktu 50 menit-an.

Setelah sampai dermaga Siring Laut-Kotabaru, kami jalan kaki di atas jembatan kayu yang menghubungkan dermaga dengan daratan sepanjang lebih dari 100 meter. Sampai di tepi jalan raya kami mencegat taksi yang akan melewati jalan dekat rumah bibi saya. Dengan membayar Rp 2000/orang kami telah sampai dekat rumah bibi yang jaraknya sekitar 1,5 km dari pusat kota.

Kedatangan saya membuat keluarga di Kotabaru surprise karena tidak menyangka saya akan jadi datang. Dan saya juga terkejut ternyata di rumahnya banyak kue dan banyak tamu yang datang. Ternyata di sini (Kalimantan) Idul Adha dirayakan seperti Idul Fitri bedanya hanya Idul Adha ada hewan kurbannya. Pantas saja ketika sebelum berangkat (saat masih di Batulicin) banyak orang yang menegur ketika saya cuma di dalam rumah saja.   

Saat makan siang tiba, hanya sedikit daging sapi yang terlihat di meja makan. “Paklik (paman)mu tadi berkurban sapi di masjid makanya dia ga mau ngambil daging kurban, itu (yang di meja makan) pun pemberian tetangga yang katanya dari mushalla sebelah,” kata bibi menjawab pertanyaan saya.  

Selama di Kotabaru kami benar-benar hidup makmur. Hampir tidak pernah merasakan perut lapar karena banyaknya makanan dan kue yang tersedia.

Saat malam Minggu (22/12/07) kebetulan di kampung bibi sedang pemadaman listrik mulai maghrib. Karena sudah direncakan sehari sebelumnya kami pun tetap berangkat ke Siring Laut. Dengan mengajak mas Yudi (kakak sepupu saya di Malang yang sekarang tinggal di sini mulai pasca idul fitri kemarin), kami pun berangkat dengan jalan kaki. Siring Laut adalah sebuahtempat seperti alun-alun kalau di pulau jawa. Jadi sebuah taman yang terletak di sekitar pusat pemerintahan. Mulai menjelang maghrib di sini selalu ramai. Banyak warung makanan yang tersedia. Kebanyakan penjualnya adalah orang jawa atau keturunan jawa.  Puncak keramaian terjadi tiap malam Minggu. Sambil menikmati makanan kita bisa menikmati indahnya lautan beserta kapal-kapalnya dan terkadang juga ada pertunjukan band-band lokal. Saat pukul 21:30 WITA,kami pun pulang dengan naik becak.

Hari Senin (24/12/07) kami kembali ke Batulicin. Sebenarnya bibi saya melarang saya pulang hari itu karena kebetulan hari itu memasak berbagai macam makanan. Tetapi karena saya telanjur sudah siap pulang dengan tas di punggung, saya pun tetap pamitan pulang hari itu. Dengan naik 2 motor, kami diantar paman dan kakak sepupu saya ke dermaga Siring laut. Setelah beli tiket di loket, kami pun kembali ke Batulicin dengan hati puas setelah beberapa hari menikmati liburan di Kotabaru. Tapi nanti sesampai di Batulicin masih  banyak tugas yang menunggu. SEMANGAT!!!

December 18, 2007

Ribut-ribut soal Asian Idols

Filed under: .:Catatanku:.

Seharian hujan terus. Tak biasanya Slick Stone City dingin seperti ini. Sebab hari biasanya mengharuskan saya mandi sehari tiga kali, pagi-siang-sore, karena tidak betah dengan badan yang basah karena keringat. Hari-hari di sini sangat panas bagi saya yang berasal dari Malang yang terkenal kota dingin.

Mendekati mahgrib tadi hujan sudah reda. Alhamdulillah….., kata hati saya. Blab!. Ah listrik padam lagi, lagi-lagi saya tidak bisa melanjutkan baca Alquran. Sungguh seringnya pemadaman listrik membuat saya terganggu. Sambil menunggu listrik nyala lagi, saya mencoba menelfon seseorang yang beberapa hari ini ngambek tidak mau mengangkat tiap saya menelfon. Maunya saya tidak menelfon lagi untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. Ternyata saya tidak sanggup, kangen!!!emoticon. Ah beruntung dia mau mengangkat, lega sudah.

Ternyata listrik nyala lagi. Sekarang bingung apa yang bisa dikerjakan. Mau melanjutkan membuat program tapi laptop dipinjam teman tadi siang untuk pengajian. Ngenet! yah tepat. Langsung saja ke lab server dan menyalakan komputer. Karena tidak ada rencana dari awal, saya pun cuma melihat-lihat blog teman-teman. Dari beberapa blog yang saya lihat, terutama blognya cewek, banyak yang mengupas tentang Asian Idol. Dan isinya pun nyaris sama. "Kenapa harus Hady Mirza???." Ternyata tayangan IDOL-IDOLan telah menjadi sebuah kebutuhan hidup (baca: kaum hawa indonesia). Karena saking cintanya, tak rela sedikitpun melewatkan tayangan tersebut. sampai-sampai hafal lagu, gaya, mimik, aksi panggung masing-masing finalis. Dan sampai pada puncaknya saat final, semua pecinta telah menyiapkan calon juara (versi masing-masing pecinta). Nah pada final Asian Idol ini, katanya, ada yang tidak beres. Katanya (lagi) harusnya bukan Hady Mirza (yang katanya bukan terbaik) yang juara. Dari beberapa blog yang saya baca alasannya pun hampir sama. Jujur saja saya memang bukan Asian Idol lovers (dan tidak pernah menontonnya) makanya kurang tahu kemampuan masing-masing finalis. Saya tidak peduli siapa yang menang, hanya saja saya jadi heran kenapa tayangan semacam itu selalu menjadi tayangan favorit. Padahal tayangan semacam itu (khususnya TV Indonesia) kebanyakan (menurut saya) hanya menjual kesedihan. Semakin menderita perjalanan hidup sang finalis maka semakin besar pula peluang menjadi pemenang. Belum lagi jika kita hitung berapa juta rupiah jumlah uang yang mengalir untuk mengirim SMS dukungan. Seharusnya biaya SMS cuma Rp 350,00 tapi untuk tayangan ini dikenakan rata-rata Rp 2.000,00/SMS. Biaya SMS yang berlipat-lipat dari biaya SMS normal. Sungguh hanya menghambur-hamburkan uang. Saya setuju dengan pemerintah negeri jiran Malaysia yang memfatwakan haram terhadap SMS semacam tersebut di atas. Menurut mereka yang menyalahi syariat Islam terletak pada berlipatnya biaya untuk mendapatkan keuntungan. Jadi sama saja dengan berjudi. Selain itu adanya kecenderungan pemborosan. Ah sudahlah kok malah ceramah, hehehe…. ngelantur…….

December 4, 2007

Saat Harus Pergi (begitu berat rasanya)

Filed under: .:Catatanku:.

Jarum jam menunjukkan pukul 14:30 WIB dan kalender tanggal 14 Nopember 2007. Berarti setengah jam lagi saya harus berangkat. Arif (teman di Alcapone sekaligus teman kuliah) sudah pulang setengah jam yang lalu setelah sekitar 4 jam-an mengantar saya keliling kota Malang membeli buku-buku, Travel Bag, dan sandal. Sekarang tinggal kakak ke-dua saya, Mas Arafat, yang masih ikut sibuk membantu saya mempersiapkan segala sesuatu yang akan dibawa. Ternyata setelah semua barang dimasukkan, tas menjadi sangat berat. Kebiasaan lama saya terus terulang, kemanapun tak lepas membawa koleksi buku. Nah karena buku itulah maka tas saya menjadi sangat berat.

Sambil menunggu datangnya mobil travel, kami bercakap-cakap. Mas Arafat ngotot ingin mengantarkan saya ke Surabaya tapi saya tolak. “Ga usah mas, toh kalau sampean ngantar nanti kalau saya sudah naik kapal sampean sama siapa? Kan tengah malam gak ada bis ke Malang, naik taksi juga mahal,” jawab saya. Dia memang tidak tega melihat adiknya sendirian bawa barang sangat berat terus sampai di Surabaya masih menunggu kapal sampai pukul 23:00 WIB. Hari ini memang hanya mas Arafat yang menemani saya di kost sebelum saya berangkat karena kebetulan tempat kerjanya dekat dengan tempat dimana saya kost.  Ibu, Bapak, dan kakak pertama sudah saya pamiti dua hari yang lalu.

Ternyata mobil Travel datang terlambat, seharusnya pukul 15:00 WIB tapi pukul 15:35 WIB baru datang. Setelah jabat tangan dan mengucapkan salam, saya naik ke mobil. Dengan lambaian tangan dari mas Arafat, saya pun berangkat meninggalkan kost saya yang baru saya tempati satu setengah bulan. Saya berusaha untuk tetap bisa melihat ke arah kakak saya itu hingga tikungan jalan menghentikannya.

Di dalam mobil hanya tiga orang termasuk sopir. “Nanti masih menjemput dua orang lagi,” kata pak sopir ketika saya tanyakan berapa jumlah penumpang nantinya. Mobilpun menuju arah Plaosan menjemput seorang ibu yang akan pergi ke Sidoarjo. Setelah mengambil penumpang di Plaosan, satu lagi penumpang naik di sebuah PJTKI di dekat pertigaan Arjosari. Penumpang yang baru adalah seorang calon TKW yang akan ke tempat penampungan di Surabaya.

Sore ini masih hujan meskipun tidak sederas satu jam yang lalu. Saya masih terdiam. Pikiran saya mulai melayang-layang tak jelas arahnya. Mulai memikirkan kakak yang saya tinggalkan di kost, keluarga di rumah, teman yang janji hari ini akan ke kost tapi batal karena katanya di rumahnya hujan deras, seseorang yang sangat saya sesalkan tidak bisa saya temui sebelum berangkat karena dia memilih ketemuan di kampus padahal saya mulai alergi menginjakkan kaki di kampus saya dulu, hingga AREMA yang tidak mungkin bisa saya tonton langsung di stadion.

“Mau kemana mas?,” tanya seorang ibu di sebelah saya membuyarkan lamunan saya. Setelah saya ceritakan tujuan saya, kamipun bisa langsung akrab. Banyak sekali yang kita bicarakan, ternyata beliau juga pernah tiga tahun tinggal di Kalimantan mengikuti suaminya yang seorang TNI. Mulai dari Purwosari hingga memasuki pasar Porong kami terus berbagi cerita sebelum akhirnya saya berinisiatif untuk istirahat. Saya terlalu ngantuk setelah semalam cuma tidur beberapa jam saja karena tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang tersisa untuk saling cerita dan curhat dengan kakak.

Bukannya tidur, justru pikiran saya kembali melayang-layang. Semua wajah orang-orang yang pernah dekat dengan saya seolah berada tepat di depan mata mengucapkan selamat tinggal. Memang hanya beberapa orang saja yang tahu bahwa saya akan pergi. Bahkan seorang perempuan yang dari dulu waktu dia SMA hingga sekarang mahasiswi di UM ‘mengejar’ saya pun tidak tahu meskipun semalam kami sempat SMS-an. Seorang yang ingin saya temui sebelum berangkat kembali muncul di hadapan saya, saya bertanya kenapa dia tidak mau menemui saya ditempat yang saya inginkan padahal itu sangat berarti untuk saya. BRAKK!!! ban mobil masuk kubangan jalan dan saya pun kembali tersadar sebelum mendengar jawabannya. Dalam hatipun memaki-maki kubangan jalan yang tidak tahu sopan-santun seenaknya mengganggu lamunan orang.

Memasuki  Tol Tanjung Perak tinggal saya dengan sopir. Tak ada percakapan sedikitpun. Sampai akhirnya tiba di pelabuhan sekitar pukul 21:00 WIB. Berarti saya masih harus menunggu kapal dua jam lagi. Ah lama sekali. Mengingat tas yang sangat berat, saya memanfaatkan jasa portir untuk membawakan tas dari tempat parkir menuju ruang tunggu hingga nantinya naik kapal. Dua puluh ribu rupiah saya pikir ongkos yang murah daripada harus membawa sendiri berdesak-desakan naik kapal apalagi jarak parkir ke kapal sangat jauh.

Tepat pukul 23:00 WIB pintu kapal dibuka. Beruntung saya menggunakan jasa portir sehingga saya bisa masuk ke kapal lebih awal. Cukup mengikuti di belakang, petugas portir sudah mencarikan tempat yang terbaik untuk saya. Saya memilih di dekat jendela agar dapat melihat ke luar kapal dengan leluasa setiap saat saya inginkan. Saya sangat suka melihat air.  

Setengah jam kemudian kapal berangkat. Saya naik ke bagian depan luar kapal. Beberapa SMS saya kirim ke orangtua, kakak, dan teman untuk mengabarkan bahwa saya segera menyeberang dan sekaligus minta doa selamat.  “Selamat tinggal Malang tercinta, selamat tinggal Jawa, tunggulah aku datang kembali dengan sejuta cerita manis di pulau seberang.”